Krisis Rohingya Belum Teratasi, Pangeran Charles Batal ke Myanmar

LONDON – Pangeran Charles dan istrinya, Duchess of Cornwall dari Inggris membatalkan kunjungan ke Myanmar di tengah tuduhan bahwa pemerintah dan militer Myanmar melakukan “pembersihan etnis” terhadap warga minoritas Muslim Rohingya.

Ahli waris kerajaan Inggris ini akan melawat 11 hari ke Asia mulai akhir Oktober dan keterangan resmi yang dikeluarkan menyebutkan bahwa ia dan istrinya akan mengunjungi Singapura, Malaysia, dan India.

Media di Inggris memberitakan, Myanmar dicoret dari daftar negara yang dikunjungi “meski sebelumnya sudah ada pembicaraan soal rencana lawatan ke negara tersebut”.

Sempat muncul spekulasi, Pangeran Charles akan tetap ke Myanmar meski ada gejolak di beberapa kawasan di negara tersebut tapi saat diumumkan secara resmi, Myanmar tidak ada dalam daftar.

“Ketika membahas persiapan lawatan, kami melihat beberapa pilihan dan akhirnya kami memutuskan untuk mengunjungi Singapura dan Malaysia,” kata Philip Malone, direktur bagian Asia Tenggara di Kementerian Luar Negeri Inggris.

Malone menambahkan persiapan lawatan Asia dilakukan selama beberapa bulan.

“Kami berkoordinasi dengan sekretaris pribadi Pangeran Charles untuk menentukan negara-negara mana saja yang akan dikunjungi,” katanya.

Bertemu Suu Kyi pada 2016

Pangeran Charles dan istrtinya, Camilla, menemui pemimpin de facto Myanmar, Aung San Suu Kyi, di kediaman resmi mereka di London, Clarence House, Mei 2016, sebelum terjadi krisis Rohingya di Rakhine.

Suu Kyi dikecam oleh masyarakat internasional karena dianggap “tak berbuat banyak mengatasi krisis kemanusiaan di Rakhine” yang menyebabkan lebih dari 500.000 warga Rohingya menyelamatkan diri ke negara tetangga Banglades.

Universitas Oxford menurunkan foto Aung San Suu Kyi di St Hugh’s College dan menggantinya dengan lukisan Jepang.

Dewan Kota Oxford juga telah mencabut gelar kehormatan Suu Kyi dengan alasan situasi yang terjadi di Rakhine membuatnya “tak lagi layak menyandang gelar kehormatan Freedom of Oxford”.

Suu Kyi berkuliah di Oxford di jurusan filsafat, politik, dan ekonomi pada 1964-1967 dan juga menikah dengan peneliti perguruan tinggi ini.

Sekjen PBB mengatakan apa yang terjadi terhadap orang-orang Rohingya “adalah pembersihan etnis”.

Krisis pecah setelah militer melakukan operasi di Rakhine untuk merespons serangan milisi Rohingya terhadap beberapa pos keamanan pada akhir Agustus.

Source : Kompas.com – 06/10/2017, 22:01 WIB

__

Iklan Layanan

Komentar disini

i-malut.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.

 

ARTIKEL TERKAIT

REKOMENDASI

Kadispar Tikep; Pariwisata Sumber Penghasilan Penunjang PAD

Tidore -- Jika kita berbicara terkait dengan sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD), maka pariwisata merupakan salah satu sumber penghasilan yang sangat signifikan dalam menunjang PAD pada setiap wilayah pemerintahan...

Mutu Pendidikan Menurun Dimasa Covid-19, Ini Penjelasan Kepala...

Tidore -- Bencana non alam Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) yang menyebar hampir seluruh negara di dunia termasuk Indonesia, telah melumpuhkan berbagai aktivitas pada semua lini termasuk dunia pendidikan. Kepala...

Ini Jawaban Bupati Usman Sidik Atas Harapan dari...

Labuha – Bupati Halmahera Selatan, Usman Sidik, menanggapi permintaan dan juga harapan dari Kerukunan Masyarakat Bajoe (KMB), terkait posisi Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan yang sempat menjadi janji Politik...

Kerukunan Masyarakat Bajoe Taruh Harap Usman-Bassam Bisa Realisasi...

Labuha – Kerukunan Masyarakat Bajoe (KMB) Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), meminta Bupati Usman Sidik dan Wakil Bupati Hasan Ali Bassam Kasuba (Usman-Bassam) agar bisa merealisasikan janji Politiknya pada Kampanye...

Sejumlah Nama Calon Ketua GAMKI Halut Mulai Bermunculan,...

Tobelo -- Meski momentum Konferensi Cabang (Konfercab) Garekan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Cabang Halmahera Utara (Halut), nanti akan digelar pada bulan Oktober mendatang, namun kini sejumlah nama yang...

Prihatin Sikap Kontraktor, Pedagang di Kawasan Kantor Bupati...

Tobelo -- Sejumlah pedagang kecil yang berjualan dikawasan Kantor Bupati Halmahera Utara (Halut), pada Jumat (17/9) sore tadi sekitar Pukul, 17.00 WIT, mengamuk sambil menyebut prihatin dengan sikap kontaktor...

PDAM Tikep Nunggak Pajak 8 Bulan, Bapenda Tikep...

Tidore -- Memasuki 9 bulan, Perusahan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Tidore Kepulauan (Tikep) tidak melakukan pembayaran pajak, membuat Badan Pendapatan Daerah (BAPENDA) Kota Tikep kehabisan akal. Sekertaris Bapenda Tikep,...

DPM-PTSP Tikep Sebut Banyak Pengusaha Ilegal di Kota...

Tidore -- Ternyata masih banyak pengusaha di wilayah Tikep yang belum memiliki ijin usaha atau masih ilegal. Hal ini sebagaimana yang disampaikan Kepala Dinas (Kadis) Dinas Penanaman Modal dan...

Diknas Tikep Ketat Lakukan Pengawas Pengelolaan Dana BOS

Tidore -- Terkait dengan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), Dinas Pendidikan (Diknas) Kota Tidore Kepulauan (Tikep) tidak main-main dalam pengawasan pengelolaannya. Plt. Kepala Dinas Pendidikan (Kadiknas) Kota Tidore Kepulauan, Zainuddin...

BERITA UTAMA

ARTIKEL TERKAIT

Krisis Rohingya Belum Teratasi, Pangeran Charles Batal ke Myanmar

LONDON – Pangeran Charles dan istrinya, Duchess of Cornwall dari Inggris membatalkan kunjungan ke Myanmar di tengah tuduhan bahwa pemerintah dan militer Myanmar melakukan “pembersihan etnis” terhadap warga minoritas Muslim Rohingya.

Ahli waris kerajaan Inggris ini akan melawat 11 hari ke Asia mulai akhir Oktober dan keterangan resmi yang dikeluarkan menyebutkan bahwa ia dan istrinya akan mengunjungi Singapura, Malaysia, dan India.

Media di Inggris memberitakan, Myanmar dicoret dari daftar negara yang dikunjungi “meski sebelumnya sudah ada pembicaraan soal rencana lawatan ke negara tersebut”.

Sempat muncul spekulasi, Pangeran Charles akan tetap ke Myanmar meski ada gejolak di beberapa kawasan di negara tersebut tapi saat diumumkan secara resmi, Myanmar tidak ada dalam daftar.

“Ketika membahas persiapan lawatan, kami melihat beberapa pilihan dan akhirnya kami memutuskan untuk mengunjungi Singapura dan Malaysia,” kata Philip Malone, direktur bagian Asia Tenggara di Kementerian Luar Negeri Inggris.

Malone menambahkan persiapan lawatan Asia dilakukan selama beberapa bulan.

“Kami berkoordinasi dengan sekretaris pribadi Pangeran Charles untuk menentukan negara-negara mana saja yang akan dikunjungi,” katanya.

Bertemu Suu Kyi pada 2016

Pangeran Charles dan istrtinya, Camilla, menemui pemimpin de facto Myanmar, Aung San Suu Kyi, di kediaman resmi mereka di London, Clarence House, Mei 2016, sebelum terjadi krisis Rohingya di Rakhine.

Suu Kyi dikecam oleh masyarakat internasional karena dianggap “tak berbuat banyak mengatasi krisis kemanusiaan di Rakhine” yang menyebabkan lebih dari 500.000 warga Rohingya menyelamatkan diri ke negara tetangga Banglades.

Universitas Oxford menurunkan foto Aung San Suu Kyi di St Hugh’s College dan menggantinya dengan lukisan Jepang.

Dewan Kota Oxford juga telah mencabut gelar kehormatan Suu Kyi dengan alasan situasi yang terjadi di Rakhine membuatnya “tak lagi layak menyandang gelar kehormatan Freedom of Oxford”.

Suu Kyi berkuliah di Oxford di jurusan filsafat, politik, dan ekonomi pada 1964-1967 dan juga menikah dengan peneliti perguruan tinggi ini.

Sekjen PBB mengatakan apa yang terjadi terhadap orang-orang Rohingya “adalah pembersihan etnis”.

Krisis pecah setelah militer melakukan operasi di Rakhine untuk merespons serangan milisi Rohingya terhadap beberapa pos keamanan pada akhir Agustus.

Source : Kompas.com – 06/10/2017, 22:01 WIB

--

BERITA LAINNYA

TERPOPULER