Relawan PMI dan Tugas Kemanusiaan

Refleksi : Hari Relawan Palang Merah Indonesia

Oleh : Lutfi Ali

Hari Relawan PMI (Palang Merah Indonesia) yang diperingati setiap tanggal 26 Desember, bermula dari bencana Tsunami Aceh lalu, dimana relawan PMI lah yang paling cepat datang, paling banyak datang dan paling lama bertugas di Aceh saat terjadi gempa 9,3 SR dan menyebabkan Tsunami waktu itu. Bukan hanya itu, berangkat dari penganugrahan Medali Hendry Dunant oleh Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional pada saat Konferensi Internasional Tanggal 11 November 2005 di seoul kepada Indonesia melalui Palang Merah Indonesia (PMI).

Tanggal 26 Desember 2017 tepatnya 13 Tahun, kita kembali memperingati hari relawan PMI. momentum yang sangat bersejarah bagi insan kemanusiaan ini tentunya akan mengisahkan perjalanan relawan PMI dalam tugas-tugas kemanusiaan baik dalam penanganan bantuan bencana alam maupun bencana ulah manusia.

Dalam pelaksanaan tugas dan kegiatannya, Relawan menjadi garis terdepan, Palang Merah Indonesia memiliki Relawan yang tergabung dalam Kelompok Tenaga Sukarela (TSR), Korps Sukarela (KSR), serta Palang Merah Remaja (PMR).

Kisah dan Tugas Relawan PMI

Seseorang yang mengalami bencana akan dihadapkan pada situasi sulit. Bencana merupakan suatu kejadian yang mengganggu kehidupan normal dan melampaui kapasitas seseorang atau masyarakat untuk mengatasinya. Masalah kehilangan dapat berdampak pada terganggunya keseimbangan kondisi psikologis seseorang; kehilangan harta benda, kehilangan orang terdekat, maupun penghasilan. Ketidakseimbangan kondisi psikologis dapat dirasakan dalam bentuk terganggunya fungsi psikologis seseorang seperti fungsi pikiran, perasaan, dan tingkah laku.

Keadaan ini semakin diperparah dengan jumlah pengungsi yang tidak sesuai dengan tempat pengungsian. Mereka kebanyakan tidak mendapatkan tempat yang layak untuk tinggal bahkan hanya untuk beristirahat saja. Kurangnya pasokan makanan yang bergizi juga menyebabkan para pengungsi mudah terserang penyakit. Mereka tidak mampu bersekolah dan harus tidur di tempat yang seadanya. Bencana alam dipastikan akan berdampak pada psikologis anak-anak. Kondisi ini dapat menyebabkan terjadinya penurunan kualitas mental sebagai dampak traumatis kejadian tersebut.

Sejak didirikan pada 1945 hingga kini (2009), PMI telah berkembang pesat. Keputusan Presiden RIS Nomor 25 tahun 1950 dan Keputusan Presiden Nomor 246 tahun 1963 mengukuhkan keberadaan PMI sebagai satu-satunya organisasi yang menjalankan tugas-tugas palang merah di wilayah Republik Indonesia. Artinya, PMI juga memiliki tugas untuk membantu Pemerintah Indonesia dalam melaksanakan penyebarluasan Hukum Perikemanusiaan Internasional (HPI).

Penanganan Bencana terdiri dari :

1. Pra-Bencana
Kesiapsiagaan, Sistem peringatan dini dan informasi manajemen bencana, Mitigasi, Penyadaran risiko dan dampak bencana

2. Saat Bencana
Evakuasi korban, Pertolongan pertama, Penampungan darurat, Pendirian dapur umum.,Penyediaan air bersih dan sanitasi, Relief

3. Pasca Bencana

Rehabilitasi :
Dewasa ini tantangan yang di hadapi relawan dalam melaksanakan Manajemen Relawan sangat bervariatif seperti Masyarakat yang belum memahami Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah, Kurangnya pemahaman mengenai Kerelawanan dan sensitif gender, Terbatasnya kapasitas dan sumber daya organisasi. Beberapa Perhimpunan Nasional di banyak wilayah dipandang masyarakat sebagai organisasi pemerintah, elit, kuno atau fokus pada tanggap darurat, melakukan rekrutmen hanya kepada segmen tertentu di masyarakat. Beberapa Perhimpunan Nasional mempunyai kapasitas terbatas untuk menerima pembaharuan, keterbukaan terhadap kelompok yang berbeda sangat bervariasi. Kurangnya sumber daya finansial dan strategi rekrutmen, lemahnya struktur dan kondisi geografis, kadang-kadang menyulitkan (persyaratan) untuk orang yang ingin menjadi Relawan sehingga membatasi rekrutmen dan keragaman Relawan. Situasi keamanan dan kebudayaan.

Bagi relawan- relawan muda, adalah penting untuk membangun hubungan kerja dengan staf. Perspektif relawan akan berkembang dari Idealis kearah Realistis. Hal ini dapat terjadi apabila staf dapat memberikan pandangan dalam analisa dan evaluasi lingkungan yang demokratis. Mengekang kegiatan relawan akan menutup komunikasi dan membangun perlawanan. Kepercayaan diri para relawan- relawan muda sangat dipengaruhi oleh keterlibatan mereka dalam kegiatan- kegiatan dimana mereka bebas untuk belajar dan berkembang. Sinergi, dimana efek hasil kerja tim lebih besar dari efek hasil kerja individual. Kerja tim akan menghasilkan semangat kebersamaan dan pengakuan. Hal ini dapat terjadi pada saat setiap kegiatan Relawan maupun Staf, berkontribusi terhadap pencapaian misi organisasi. Memastikan bahwa pembagian tugas untuk semua posisi Relawan dan Staf memperhatikan kesempatan peran dan tanggung jawab Relawan dan Staf untuk mencapai tujuan dalam berbagai prioritas organisasi.

Kegiatan Relawan telah menjadi Jantung Kehidupan Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah sejak pertama kali didirikan. Meskipun lingkungan kerelawanan berkembang, kegiatan Relawan pada Peperangan di Solferino terus menginspirasi dan memandu Gerakan untuk memperbaiki kehidupan masyarakat rentan. Memobilisasi Relawan untuk melayani masyarakat rentan harusnya menjadi Kompetensi Kunci Perhimpunan Nasional. Kemampuan ini secara terus menerus dipertanyakan. Dalam rangka tugas-tugas kepalangmerahan, Pengurus PMI Cabang menugaskan Relawan PMI (KSR-TSR) sesuai dengan prosedur organisasi, keahlian dan kebutuhan. Para Relawan PMI (KSR-TSR) telah dipersiapkan melalui Pelatihan sehingga mampu untuk ditugaskan sesuai kompetensinya pada tugas-tugas kepalangmerahan (Pelayanan & Pengembangan Organisasi) baik secara mandiri maupun dengan pendampingan.

Bagian penting dalam setiap operasi tanggap darurat adalah mobilisasi Relawan. Tanpa relawan, PMI tidak mempunyai kapasitas untuk respons. Agar relawan dapat memberikan kontribusi secara efektif, mereka harus dilatih sehingga memiliki keterampilan yang memadai, diberikan peran, dan jabaran tugas yang jelas, di kelola dengan baik, diperlakukan dan diakui. Manajemen Relawan SEBELUM (kesiapsiagaan), SAAT (tanggap darurat) dan SETELAH bencana (rehabilitasi), harus dipandang sebagai tugas dasar setiap perhimpunan nasional.

Banyak Relawan telah mempunyai sejarah kerelawanan yang menimbulkan pertanyaan perbandingan seperti, ‘apakah relawan sekarang berbeda dengan dulu, beberapa dekade yang lalu?’. Jawaban dari pertanyaan ini dapat seperti yang digambarkan seorang ‘veteran relawan’, yang mengatakan,“Ya, dulu relawan hanya ingin melayani masyarakat. Sekarang mereka punya ekspektasi yang tinggi, mereka ingin ‘mendapatkan’ sesuatu, juga, lebih ber-orientasiinsentif dan lebih sadar terhadap segala hal”. Juga terdapat perbedaan besar saat berdiskusi mengenai permasalahan relawan dengan orang yang berasal dari anggota Regional Disaster Response Teams (RDRTs), atau dari Perhimpunan Nasional Negara lain/ Partner National Societies (PNS) yang mempunyai latar belakang relawan atau telah menerima pelatihan tentang kerelawanan. Mereka mempunyai pemahaman yang lebih baik, juga kepekaan kemanusiaan dalam hubungannya dengan kerelawanan.

#salam_kemanusiaan
#fangare_relawan_fangare_PMI
#saya_relawan_saya_PMI
#marimoi_ngone_futuru

__

Iklan Layanan

Komentar disini

i-malut.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

 

ARTIKEL TERKAIT

REKOMENDASI

LSM LIRA Malut Mengutuk Keras Pemukulan Wartawan Binpers...

Ternate -- Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Lumbung Rakyat Indonesia (LIRA) Maluku Utara (Malut), mengutuk keras tindakan pemukulan terhadap salah satu wartawan Berita Investigasi Nasional (Binpers) Biro Maluku Utara. Ketua LSM...

EGP dengan teguran Gubernur, Ningsih terus lakukan Pergantian

Sanana -- Anjing menggongong Kafilah tetap berlalu menjadi pribahasa yang tepat untuk menggambarkan Pemerintah Daerah Kabupaten Kepulauan Sula (Kepsul) dibawah Kepemimpinan Kepala Daerah (Bupati-red) Fifian Adeningsih Mus. Bagaimana tidak,...

F-Demokrat DPRD Kepsul, ingatkan Bupati Penyerapan DAK 2021

Sanana -- Fraksi Demokrat, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kepulauan Sula (Kepsul), mengingatkan Bupati Kepsul, Fifian Adeningsih Mus terkait penyerapan anggaran Dana Alokasi Khusus (DAK) Tahun 2021. Melalui Sekretaris Ajis...

Geser Jabatan Disdukcapil, Masyarakat Jadi Korban

Sanana -- Ketika muncul pertanyaan, apakah Kebijakan Bupati Kepulauan Sula (Kepsul), Fifian Adeningsih Mus (FAM) melakukan Pemberhentian dan Pengangkatan Jabatan yang tidak sesuai mekanisme dan peraturan perundang-undangan yang berlaku,...

Babinsa dekati Pemuda, untuk jauhi Miras

Sanana -- Baru-baru ini Serda. Rusman Soamole, Anggota TNI Kodim 1510/Sula-Koramil 03/Sanana yang bertugas sebagai Bintara Pembina Desa (Babinsa) di Desa Pelita Jaya-Kec. Mangoli Utara Timur, Kabupaten Kepulauan Sula...

Kepada massa Aksi APHS, Ketua DPRD Tawarkan Forum...

Sanana -- Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Kepulauan Sula (Kepsul), Sinaryo Thes, menawarkan Forum Bersama (Forum Rakyat-red) saat beraudiensi dengan puluhan massa Aksi dari Aliansi Peduli Hai...

Jargon Aksi Nyentrik iringi APHS Demo Bupati FAM

Sanana -- Berbagai Spanduk dan Poster yang menjadi Jargon Aksi APHS (Aliansi Pemuda Hai Sua) pada aksi mereka yang ke II, di Kantor Bupati Kepulauan Sula (Kepsul) dan Kantor...

Gelar Aksi di Kantor Dispora Malut, Sejumlah Atlet...

Sofifi -- Menuntut hak merupakan sesuatu yang wajar bagi setiap orang yang telah memenuhi kewajibannya, tak terkecuali para atlet Maluku Utara yang hingga saat ini uang sakunya selama dua...

APHS datangi Kantor Bupati, Sebut FAM Tidak Tau...

Sanana -- Aksi Jilid II Aliansi Peduli Hai Sua atau APHS di Kantor di Bupati, jln. Paskah Suzeta-Desa Pohea, Kec. Sanana Kab. Kepulauan Sula (Kepsul), Pendemo teriakkan Fifian Adeningsih...

BERITA UTAMA

APHS datangi Kantor Bupati, Sebut FAM Tidak Tau...

Sanana -- Aksi Jilid II Aliansi Peduli Hai Sua atau APHS di Kantor di Bupati, jln. Paskah Suzeta-Desa Pohea,...

Ningsih diperintahkan kembalikan posisi 57 Pejabat di Pemkab...

QS Al-Baqarah Ayat 153 : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ "Wahai orang-orang yang...

Apakah Bupati dan Dirjen Otda Bermain Mata, terkait...

Sanana -- Mutasi massal yang dilakukan oleh Bupati Kepulauan Sula (Kepsul) Fifian Adeningsih Mus (FAM) Kepada 57 Pejabat Eselon...

ARTIKEL TERKAIT

Relawan PMI dan Tugas Kemanusiaan

Refleksi : Hari Relawan Palang Merah Indonesia

Oleh : Lutfi Ali

Hari Relawan PMI (Palang Merah Indonesia) yang diperingati setiap tanggal 26 Desember, bermula dari bencana Tsunami Aceh lalu, dimana relawan PMI lah yang paling cepat datang, paling banyak datang dan paling lama bertugas di Aceh saat terjadi gempa 9,3 SR dan menyebabkan Tsunami waktu itu. Bukan hanya itu, berangkat dari penganugrahan Medali Hendry Dunant oleh Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional pada saat Konferensi Internasional Tanggal 11 November 2005 di seoul kepada Indonesia melalui Palang Merah Indonesia (PMI).

Tanggal 26 Desember 2017 tepatnya 13 Tahun, kita kembali memperingati hari relawan PMI. momentum yang sangat bersejarah bagi insan kemanusiaan ini tentunya akan mengisahkan perjalanan relawan PMI dalam tugas-tugas kemanusiaan baik dalam penanganan bantuan bencana alam maupun bencana ulah manusia.

Dalam pelaksanaan tugas dan kegiatannya, Relawan menjadi garis terdepan, Palang Merah Indonesia memiliki Relawan yang tergabung dalam Kelompok Tenaga Sukarela (TSR), Korps Sukarela (KSR), serta Palang Merah Remaja (PMR).

Kisah dan Tugas Relawan PMI

Seseorang yang mengalami bencana akan dihadapkan pada situasi sulit. Bencana merupakan suatu kejadian yang mengganggu kehidupan normal dan melampaui kapasitas seseorang atau masyarakat untuk mengatasinya. Masalah kehilangan dapat berdampak pada terganggunya keseimbangan kondisi psikologis seseorang; kehilangan harta benda, kehilangan orang terdekat, maupun penghasilan. Ketidakseimbangan kondisi psikologis dapat dirasakan dalam bentuk terganggunya fungsi psikologis seseorang seperti fungsi pikiran, perasaan, dan tingkah laku.

Keadaan ini semakin diperparah dengan jumlah pengungsi yang tidak sesuai dengan tempat pengungsian. Mereka kebanyakan tidak mendapatkan tempat yang layak untuk tinggal bahkan hanya untuk beristirahat saja. Kurangnya pasokan makanan yang bergizi juga menyebabkan para pengungsi mudah terserang penyakit. Mereka tidak mampu bersekolah dan harus tidur di tempat yang seadanya. Bencana alam dipastikan akan berdampak pada psikologis anak-anak. Kondisi ini dapat menyebabkan terjadinya penurunan kualitas mental sebagai dampak traumatis kejadian tersebut.

Sejak didirikan pada 1945 hingga kini (2009), PMI telah berkembang pesat. Keputusan Presiden RIS Nomor 25 tahun 1950 dan Keputusan Presiden Nomor 246 tahun 1963 mengukuhkan keberadaan PMI sebagai satu-satunya organisasi yang menjalankan tugas-tugas palang merah di wilayah Republik Indonesia. Artinya, PMI juga memiliki tugas untuk membantu Pemerintah Indonesia dalam melaksanakan penyebarluasan Hukum Perikemanusiaan Internasional (HPI).

Penanganan Bencana terdiri dari :

1. Pra-Bencana
Kesiapsiagaan, Sistem peringatan dini dan informasi manajemen bencana, Mitigasi, Penyadaran risiko dan dampak bencana

2. Saat Bencana
Evakuasi korban, Pertolongan pertama, Penampungan darurat, Pendirian dapur umum.,Penyediaan air bersih dan sanitasi, Relief

3. Pasca Bencana

Rehabilitasi :
Dewasa ini tantangan yang di hadapi relawan dalam melaksanakan Manajemen Relawan sangat bervariatif seperti Masyarakat yang belum memahami Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah, Kurangnya pemahaman mengenai Kerelawanan dan sensitif gender, Terbatasnya kapasitas dan sumber daya organisasi. Beberapa Perhimpunan Nasional di banyak wilayah dipandang masyarakat sebagai organisasi pemerintah, elit, kuno atau fokus pada tanggap darurat, melakukan rekrutmen hanya kepada segmen tertentu di masyarakat. Beberapa Perhimpunan Nasional mempunyai kapasitas terbatas untuk menerima pembaharuan, keterbukaan terhadap kelompok yang berbeda sangat bervariasi. Kurangnya sumber daya finansial dan strategi rekrutmen, lemahnya struktur dan kondisi geografis, kadang-kadang menyulitkan (persyaratan) untuk orang yang ingin menjadi Relawan sehingga membatasi rekrutmen dan keragaman Relawan. Situasi keamanan dan kebudayaan.

Bagi relawan- relawan muda, adalah penting untuk membangun hubungan kerja dengan staf. Perspektif relawan akan berkembang dari Idealis kearah Realistis. Hal ini dapat terjadi apabila staf dapat memberikan pandangan dalam analisa dan evaluasi lingkungan yang demokratis. Mengekang kegiatan relawan akan menutup komunikasi dan membangun perlawanan. Kepercayaan diri para relawan- relawan muda sangat dipengaruhi oleh keterlibatan mereka dalam kegiatan- kegiatan dimana mereka bebas untuk belajar dan berkembang. Sinergi, dimana efek hasil kerja tim lebih besar dari efek hasil kerja individual. Kerja tim akan menghasilkan semangat kebersamaan dan pengakuan. Hal ini dapat terjadi pada saat setiap kegiatan Relawan maupun Staf, berkontribusi terhadap pencapaian misi organisasi. Memastikan bahwa pembagian tugas untuk semua posisi Relawan dan Staf memperhatikan kesempatan peran dan tanggung jawab Relawan dan Staf untuk mencapai tujuan dalam berbagai prioritas organisasi.

Kegiatan Relawan telah menjadi Jantung Kehidupan Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah sejak pertama kali didirikan. Meskipun lingkungan kerelawanan berkembang, kegiatan Relawan pada Peperangan di Solferino terus menginspirasi dan memandu Gerakan untuk memperbaiki kehidupan masyarakat rentan. Memobilisasi Relawan untuk melayani masyarakat rentan harusnya menjadi Kompetensi Kunci Perhimpunan Nasional. Kemampuan ini secara terus menerus dipertanyakan. Dalam rangka tugas-tugas kepalangmerahan, Pengurus PMI Cabang menugaskan Relawan PMI (KSR-TSR) sesuai dengan prosedur organisasi, keahlian dan kebutuhan. Para Relawan PMI (KSR-TSR) telah dipersiapkan melalui Pelatihan sehingga mampu untuk ditugaskan sesuai kompetensinya pada tugas-tugas kepalangmerahan (Pelayanan & Pengembangan Organisasi) baik secara mandiri maupun dengan pendampingan.

Bagian penting dalam setiap operasi tanggap darurat adalah mobilisasi Relawan. Tanpa relawan, PMI tidak mempunyai kapasitas untuk respons. Agar relawan dapat memberikan kontribusi secara efektif, mereka harus dilatih sehingga memiliki keterampilan yang memadai, diberikan peran, dan jabaran tugas yang jelas, di kelola dengan baik, diperlakukan dan diakui. Manajemen Relawan SEBELUM (kesiapsiagaan), SAAT (tanggap darurat) dan SETELAH bencana (rehabilitasi), harus dipandang sebagai tugas dasar setiap perhimpunan nasional.

Banyak Relawan telah mempunyai sejarah kerelawanan yang menimbulkan pertanyaan perbandingan seperti, ‘apakah relawan sekarang berbeda dengan dulu, beberapa dekade yang lalu?’. Jawaban dari pertanyaan ini dapat seperti yang digambarkan seorang ‘veteran relawan’, yang mengatakan,“Ya, dulu relawan hanya ingin melayani masyarakat. Sekarang mereka punya ekspektasi yang tinggi, mereka ingin ‘mendapatkan’ sesuatu, juga, lebih ber-orientasiinsentif dan lebih sadar terhadap segala hal”. Juga terdapat perbedaan besar saat berdiskusi mengenai permasalahan relawan dengan orang yang berasal dari anggota Regional Disaster Response Teams (RDRTs), atau dari Perhimpunan Nasional Negara lain/ Partner National Societies (PNS) yang mempunyai latar belakang relawan atau telah menerima pelatihan tentang kerelawanan. Mereka mempunyai pemahaman yang lebih baik, juga kepekaan kemanusiaan dalam hubungannya dengan kerelawanan.

#salam_kemanusiaan
#fangare_relawan_fangare_PMI
#saya_relawan_saya_PMI
#marimoi_ngone_futuru

--

BERITA LAINNYA

UNUTARA Sebagai Pelopor Kampus Multi Toleransi di Maluku...

Ternate -- Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) wilayah XII provinsi Maluku-Maluku Utara telah menyelenggarakan evaluasi...

Babinsa dekati Pemuda, untuk jauhi Miras

Sanana -- Baru-baru ini Serda. Rusman Soamole, Anggota TNI Kodim 1510/Sula-Koramil 03/Sanana yang bertugas sebagai...

YPK GMIH Angkat Tommy Sebagai Kepsek SMA Kristen...

Tobelo -- Yayasan Pendidikan Kristen (YPK) Gereja Masehi Injili di Halmahera (GMIH), pada Sabtu (12/6)...

Geser Jabatan Disdukcapil, Masyarakat Jadi Korban

Sanana -- Ketika muncul pertanyaan, apakah Kebijakan Bupati Kepulauan Sula (Kepsul), Fifian Adeningsih Mus (FAM)...

Pelaku Pengrusakan Toko Indoraya akhirnya menyesal dan minta...

Sanana -- Pelaku pengrusakan Toko Indoraya pada Desember 2020, Mukaram Umasugi akhirnya menyesal dan minta...

Diduga ada SK Tenaga Guru PTT yang Dobel,...

Sofifi -- Terkait dengan dugaan temuan Surat Keputusan (SK) sejumlah tenaga guru PTT SMA yang dobel,...

TERPOPULER

Ningsih diperintahkan kembalikan posisi 57 Pejabat di Pemkab...

QS Al-Baqarah Ayat 153 : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ "Wahai orang-orang yang...

Beri Sinyal Tidak Ada Dendam Politik, Bupati: Siapa...

Labuha – Bupati Halmahera Selatan (Halsel), Usman Sidik memiliki kebiasaan melakukkan Inspeksi Mendadak (Sidak) di kantor Dinas/Badan, kantor desa,...