MERAWAT KEMAJEMUKAN

Refleksi 72 Tahun Kementerian Agama RI

Oleh : Safri Kamaria (Chapy)
Kepala Seksi Sistim Informasi Pendidikan
Kanwil Kemenag Maluku Utara

Adalah Indonesia, sebuah Negara yang memiliki 17 Ribu pulau terbentang dari sabang sampai merauke, 34 Provinsi, 516 Kabupaten/Kota, 714 Suku dan lebih dari 1.100 bahasa lokal dengan pemeluk Agama Islam, Kristen, Protestan, Katolik, Hindu, Budha, Konghucu semua ini adalah tentang Kemajemukan dan harus diterima sebagai anugerah terindah dari Allah SWT.

Kemajemukan ini telah disatukan oleh sebuah cita-cita yang sama yakni mewujudkan Negara Pancasila dalam bingkai konstitusi UUD 1945, dan telah diikrarkan oleh para pendiri bangsa ini dalam satu tekad yang kita kenal dengan sebutan Bhineka Tunggal Ika, hal ini tentu bukan tanpa dasar melainkan melalui sebuah kajian dan perenungan yang mendalam atas kondisi ril bangsa Indonesia itu sendiri.

Catatan diatas mengajarkan kepada kita bahwa kemajukan adalah fakta tentang ragam perbedaan masyarkat Indoensia yang tidak bisa ditolak dengan alasan apapun, kemajemukan idealnya harus dikelola dengan prinsip dan nilai-nilai kemanusiaan, tanpa harus mengedepankan fanatisme berlebihan dengan dalih fakta kemajemukan itu sendiri.

Sebagai masyarkat majemuk, Indonesia memiliki catatan pahit dalam upaya membumikan kesadaran berbhineka tunggal ikha, konflik antar suku, pertikaian kelompok minoritas versus mayoritas, hingga konflik atas nama Agama. Semua konflik ini telah mengakibatkan masyarakat kehilangan harta, tempat tinggla, hingga menelan korban yang juga tidak sedikit jumlahnya, dan inilah fakta ketika kemajemukan itu terkoyak.

Bangsa ini sudah cukup tua, pada usianya yang ke 72 masyarakat Indoensia mestinya cukup terlatih dan sudah cukup matang dalam merawat kehidupan yang majemuk ini, diusia ini pula masyarkat Indonesia sudah harus menyadari benar bahwa kemajemukan yang terkoyak adalah pintu masuk menuju nestapa, yang sudah tentu akan menyulitkan kita untuk melakukan pemulihan terhadap penderitaan yang diakibatkan oleh konflik-konflik atas nama perbedaan.

Kita semua tentu prihatin dengan kondisi Indonesia terutama beberapa dekade terahir, maraknya isu radikalisme, munculnya kelompok-kelompok intoleran yang mempersoalkan konsep kemajemukan, dan bahkan bisa jadi masalah SARA akan terus dijadikan sebagai salah satu isu paling ampuh untuk mengobrak-abrik kerukunan yang semakin membaik, semua ini adalah deretan persoalan yang berpotensi sangat mengancam perdamaian yang sedang kita rawat dari tahun ke tahun.

Berdasarkan kondisi itu, Kementerian Agama RI menyodorkan tema “Tebarkan Kedamaian” pada momentum Hari Amal Bakti Ke-72 Kementerian Agama RI tahun 2017, tema ini tentu syarat dengan nilai ke-Indonesiaan sekaligus kemanusian yang perlu dibumikan dalam kehidupan sehari-hari, tebarkan kedaimaian menjadi sangat penting untuk kita renungkan bersama dan mampu diwujudkan dalam praktik kehidupan bermasyarkat dan bernegara.

Tema tebarkan kedamaian, mengingatkan kita pada fungsi Agama dalam masyarakat majemuk, yakni sebagai motivator. Meletakkan landasan etis, moral dan spiritual dalam hidup bermasyarakat. Agama menjadi komitmen terdalam bagi manusia untuk mencapai harmoni dan perdamaian. Merupakan kekuatan transformatif, inspiratif untuk menciptakan masa kini dan masa depan penuh perdamaian.

Dalam bingkai kemajemukan diperlukan citra Agama yang damai, toleran, dapat mengayomi, memberikan rasa nyaman untuk seluruh warga negara Indonesia tanpa memandang perbedaan. Jika semua Agama memahami dan menjalankan nilai ke-Indonesiaan, maka tantangan dalam kemajemukan dapat diatasi.

Kemajemukan harus menjadi kekuatan dan sumber inspirasi nasionalisme. Peran kita semua yang bersinergi dalam kebangsaan Indonesia untuk bersama-sama merajut dan mengelola kemajemukan, mempertahankan kerukunan, persaudaraan anak bangsa. Cerdas mengelola kemajemukan menjadi potensi pemersatu dan pemacu semangat kebangsaan, kemajemukan bukan merupakan ancaman, melainkan kekuatan, sumber dinamika yang luar biasa.

__

Iklan Layanan

Komentar disini

i-malut.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.

 

ARTIKEL TERKAIT

REKOMENDASI

Drupadi BMI Malut Desak Polda Malut Usut Tuntas...

Ternate -- Drupadi Bintang Muda Indonesia (BIM) Maluku Utara (Malut), desak Polda Malut untuk segera mengusut tuntas kasus pemerkosaan yang dilakukan oleh salah satu oknum Polisi berpangkat Briptu pada...

Dampingi Luhut Resmi Pabrik Bahan Baku Batrai, Bupati...

Labuha -- Bupati Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), ikut mendampingi Menteri Koordinator bidang kemaritiman, Luhut Bizar Pandjaitan, dalam peresmian Pabrik bahan baku baterai kendaraan listrik pertama di Indonesia yang memproduksi...

Lagi, Jembatan Pitago Bailengit Rusak

Tobelo -- Sangat memprihatinkan, jembatan Wailamo yang menghubungkan Desa Pitago dan Desa Bailengit Kecamatan Kao Barat Kabupaten Halmahera Utara, lagi-lagi kembali rusak. Padahal, jembatan tersebut belum lama ini telah...

Dinas P3A Malut Bakal Kawal Kasus Pemerkosaan di...

Sofifi -- Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A) Provinsi Maluku Utara (Malut) akan mengawal kasus pemerkosaan terhadap korban yang masih dibawah umur, yang diduga dilakukan oknum Polisi di...

Kembali marak, Babinsa Waiman ingatkan warga terkait Bahaya...

Sanana, Perang terhadap Corona Virus Disease atau Covid-19 belum selesai, bahkan kini ada varian baru terkait virus ini. Untuk itu Pemerintah Indonesia, mulai dari Pusat maupun Daerah kembali mengingatkan...

Bergerak Cepat, DPD BMI Malut Mengakar Hingga ke-Pelosok...

Ternate -- Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Bintang Muda Indonesian (BMI) Maluku Utara, gencar melakukan sosialisasi serta konsolidasi dan verifikasi faktual, guna membentuk DPC Kabupaten/Kota se-Provinsi Maluku Utara (Malut). Hal ini...

Besok, Disdik Kota Ternate Lounching Sekolah Insklusif di...

Ternate - Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Ternate pada Rabu 23 Juni 2021 besok akan Lounching Sekolah Insklusif, bertempat SD Negeri 6 Kota Ternate, Kelurahan Kampung Makasar Barat, Kota Ternate...

Sambut kedatangan Mendagri Tito Karnavian, APMS pasang baliho...

Sanana -- Aliansi Peduli Masyarakat Sula atau APMS kepada media ini memberikan penjelasan terkait Sikap Bupati Sula memutasi dan merotasi 57 jabatan termasuk menon-jobkan Sekda Kepulauan Sula, sebagai perbuatan...

Babinsa Sekom Pelopori Giat Bhakti, ajak Warga dan...

Sanana -- Kelompok Masyarakat Desa yang mempunyai paradigma maju dan berpikir positif adalah suatu kekuatan dan aset untuk membangun sebuah Desa, ditambah lagi dengan Kelompok Mahasiswa dalam satuan tugas...

BERITA UTAMA

Dampingi Luhut Resmi Pabrik Bahan Baku Batrai, Bupati...

Labuha -- Bupati Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), ikut mendampingi Menteri Koordinator bidang kemaritiman, Luhut Bizar Pandjaitan, dalam peresmian Pabrik...

Maslan Jabat PLH Sekda Halsel, Helmi Dikabarkan Sakit

Labuha – Bupati Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), mengangkat Maslan Hi. Hasan,SH,M.Si, Kepala Bagian (Kabag) organisasi sebagai Asisten Perekonomian dan...

ARTIKEL TERKAIT

MERAWAT KEMAJEMUKAN

Refleksi 72 Tahun Kementerian Agama RI

Oleh : Safri Kamaria (Chapy)
Kepala Seksi Sistim Informasi Pendidikan
Kanwil Kemenag Maluku Utara

Adalah Indonesia, sebuah Negara yang memiliki 17 Ribu pulau terbentang dari sabang sampai merauke, 34 Provinsi, 516 Kabupaten/Kota, 714 Suku dan lebih dari 1.100 bahasa lokal dengan pemeluk Agama Islam, Kristen, Protestan, Katolik, Hindu, Budha, Konghucu semua ini adalah tentang Kemajemukan dan harus diterima sebagai anugerah terindah dari Allah SWT.

Kemajemukan ini telah disatukan oleh sebuah cita-cita yang sama yakni mewujudkan Negara Pancasila dalam bingkai konstitusi UUD 1945, dan telah diikrarkan oleh para pendiri bangsa ini dalam satu tekad yang kita kenal dengan sebutan Bhineka Tunggal Ika, hal ini tentu bukan tanpa dasar melainkan melalui sebuah kajian dan perenungan yang mendalam atas kondisi ril bangsa Indonesia itu sendiri.

Catatan diatas mengajarkan kepada kita bahwa kemajukan adalah fakta tentang ragam perbedaan masyarkat Indoensia yang tidak bisa ditolak dengan alasan apapun, kemajemukan idealnya harus dikelola dengan prinsip dan nilai-nilai kemanusiaan, tanpa harus mengedepankan fanatisme berlebihan dengan dalih fakta kemajemukan itu sendiri.

Sebagai masyarkat majemuk, Indonesia memiliki catatan pahit dalam upaya membumikan kesadaran berbhineka tunggal ikha, konflik antar suku, pertikaian kelompok minoritas versus mayoritas, hingga konflik atas nama Agama. Semua konflik ini telah mengakibatkan masyarakat kehilangan harta, tempat tinggla, hingga menelan korban yang juga tidak sedikit jumlahnya, dan inilah fakta ketika kemajemukan itu terkoyak.

Bangsa ini sudah cukup tua, pada usianya yang ke 72 masyarakat Indoensia mestinya cukup terlatih dan sudah cukup matang dalam merawat kehidupan yang majemuk ini, diusia ini pula masyarkat Indonesia sudah harus menyadari benar bahwa kemajemukan yang terkoyak adalah pintu masuk menuju nestapa, yang sudah tentu akan menyulitkan kita untuk melakukan pemulihan terhadap penderitaan yang diakibatkan oleh konflik-konflik atas nama perbedaan.

Kita semua tentu prihatin dengan kondisi Indonesia terutama beberapa dekade terahir, maraknya isu radikalisme, munculnya kelompok-kelompok intoleran yang mempersoalkan konsep kemajemukan, dan bahkan bisa jadi masalah SARA akan terus dijadikan sebagai salah satu isu paling ampuh untuk mengobrak-abrik kerukunan yang semakin membaik, semua ini adalah deretan persoalan yang berpotensi sangat mengancam perdamaian yang sedang kita rawat dari tahun ke tahun.

Berdasarkan kondisi itu, Kementerian Agama RI menyodorkan tema “Tebarkan Kedamaian” pada momentum Hari Amal Bakti Ke-72 Kementerian Agama RI tahun 2017, tema ini tentu syarat dengan nilai ke-Indonesiaan sekaligus kemanusian yang perlu dibumikan dalam kehidupan sehari-hari, tebarkan kedaimaian menjadi sangat penting untuk kita renungkan bersama dan mampu diwujudkan dalam praktik kehidupan bermasyarkat dan bernegara.

Tema tebarkan kedamaian, mengingatkan kita pada fungsi Agama dalam masyarakat majemuk, yakni sebagai motivator. Meletakkan landasan etis, moral dan spiritual dalam hidup bermasyarakat. Agama menjadi komitmen terdalam bagi manusia untuk mencapai harmoni dan perdamaian. Merupakan kekuatan transformatif, inspiratif untuk menciptakan masa kini dan masa depan penuh perdamaian.

Dalam bingkai kemajemukan diperlukan citra Agama yang damai, toleran, dapat mengayomi, memberikan rasa nyaman untuk seluruh warga negara Indonesia tanpa memandang perbedaan. Jika semua Agama memahami dan menjalankan nilai ke-Indonesiaan, maka tantangan dalam kemajemukan dapat diatasi.

Kemajemukan harus menjadi kekuatan dan sumber inspirasi nasionalisme. Peran kita semua yang bersinergi dalam kebangsaan Indonesia untuk bersama-sama merajut dan mengelola kemajemukan, mempertahankan kerukunan, persaudaraan anak bangsa. Cerdas mengelola kemajemukan menjadi potensi pemersatu dan pemacu semangat kebangsaan, kemajemukan bukan merupakan ancaman, melainkan kekuatan, sumber dinamika yang luar biasa.

--

BERITA LAINNYA

TERPOPULER