Menjadi Guru Kreatif yang Kaya Metode

Dalam sebuah kesempatan, saya berkunjung ke sebuah lembaga pendidikan formal untuk suatu tugas, saat itu saya bersama kepala sekolah berkeliling sekolah sambil diskusi bagaimana meningkatkan mutu pendidikan di sekolah itu, tepat di depan satu kelas saya berhenti sejenak dan menyaksikan seorang guru yang terlihat sangat emosional memukul salah satu siswa sambil mengusirnya keluar kelas. Saya kemudian hampiri anak itu lalu bertanya, kenapa anda dipukul dan dikeluarkan? saya tidak bawa Al-Qur’an, jawab siswa tersebut.

Rupanya Pelajaran hari itu adalah Baca Tulis Al-Qur’an, dan bukan hanya satu siswa yg dikeluarkan, tetapi sekitar 7 orang siswa yang dikeluarkan dengan alasan tidak membawa Al-Qur’an. mengapa guru bersangkutan memilih mengeluarkan peserta didik dari kelas saat jam pelajaran berlangsung dengan alasan yang (maaf) sangat tidak berkualitas itu? Bukankah belajar Baca Tulis Al-qur’an itu tidak akan “gagal” meskipun peserta didik tidak membawa al-qur’an? Sebagaimana halnya peserta didik tidak membawa alat praktik biologi atau fisika, kelas tidak boleh “mati” apalagi peserta didik dikeluarkan dari kelas hanya karena alat praktik tidak dibawa peserta didik.

Peserta didik tidak membawa al-qur’an saat materi BTA bukanlah sebuah masalah serius, karena ada banyak metode, teknik, dan atau strategi yang bisa dipakai guru saat belajar BTA, jika ada akibat yang harus ditanggung peserta didik karena tidak menuruti perintah guru, maka mengeluarkan peserta didik disaat jam pelajaran berlangsung adalah keputusan hukuman yang menurut saya kurang tepat. Peserta didik yang tidak patuh dalam konteks ini cukup diberi teguran tanpa dipukul, apalagi dikeluarkan dari kelas.

Idealnya, seorang guru tidak boleh kehabisan ide apalagi miskin metode saat melaksanakan Proses Belajar Mengajar (PBM), kehabisan ide dan miskin metode dapat menjadikan seorang guru mengajar apa adanya, dan bahkan akan terlihat malas di dalam kelas, kelas menjadi “gersang”, bahkan bisa jadi ingin cepat selesai sebelum waktunya.

Potret PBM yang demikian ini jangan sampai terjadi ditempat lain di Maluku Utara atau bahkan di Indonesia, jika sekolah/madrasah berkomitmen meningkatkan prestasi peserta didik sekolah/madrasah. Mutu atau kualitas pendidikan harus diupayakan dengan strategi tertentu, dalam Proses Belajar Mengajar, guru yang “kaya metode” dan menguasai materi ajar tentu akan sangat berbeda dengan guru yang “miskin metode”, dan sudah pasti hasil PBM-nya akan berbeda pula.

Metode mengajar menurut saya “wajib” dipelajari dan dipahami oleh setiap guru, metode mengajar itu bukan sekedar teori, metode mengajar lahir dari proses penelitian yang tidak asal-asalan, sukses melewati uji kelayakan yang tidak sederhana, dan yang merekomendasikan pentingnya memahami dan melaksanakan metode belajar mengajar di Sekolah/Madrasah itu adalah para ahli yang profesional dibidangnya. Karena itu, menyepelekan metode mengajar sama artinya menyepelekan Proses PBM yang berkualitas.

Kurikulum apapun yang akan dipakai sekolah/madrasah, maka metode mengajar menjadi sangat penting untuk dipahami dan dilaksanakan dengan baik sesaui kaidahnya atau sitaksnya oleh guru dalam PBM. Jika tidak demikian maka saya memastikan hanya ada satu metode klasik yang mendominasi dalam PBM, yakni ceramah atau bahkan CBSA (Catat Buku Sampai Habis), sebuah metode yang terbukti telah mematikan kreatifitas belajar dan berpikir peserta didik, metode yang tidak mengajarkan anak didik tentang bagaimana belajar, intinya mengajar dengan ceramah monoton sama dengan menganggap peserta didik ibarat botol kosong yang diisi air, hingga penuh lalu tumpah keluar.

Pernyataan soal metode ceramah di atas bukan berarti ingin menghentikan metode ceramah dalam PBM secara total, akan tetapi porsinya mungkin dikurangi, sehingga PBM menjadi lebih efektif dan menyenangkan dengan metode tertentu yang dikuasai guru. Ceramah menurut saya bisa dijadikan sebagai fungsi penguat dalam PBM (Proses Belajar Mengajar), sehingga seorang guru cukup menggunakannya pada saat tertentu dalam setiap PBM, apapun bidang studi yang diajarkan.

Karena itu, sangat menyedihkan, kalau perubahan dunia yang “makin laju” ini tidak direspon dengan cerdas oleh terutama dunia pendidikan, karena dunia pendidikan juga tidak luput dari dampak sebuah perubahan, perubahan kurikulum misalnya, selain merupakan hasil evaluasi juga merupakan respon terhadap perubahan yang sedang melanda dunia, dan ada hal penting yang perlu diperhatikan dalam perubahan kurikulum tersebut, mulai dari struktur, waktu belajar, proses, hingga penilaian hasil belajar.

Dengan demikian, setiap guru secara individual juga perlu sekali merespon perubahan itu, perlu beradaptasi dengan perubahan yang sedang terjadi dengan senantiasa belajar terus menerus, meningkatkan profesionalismenya, terutama sekali berkaitan dengan tugas dan fungsinya sebagai seorang guru, semakin kreatif dalam mengelola Kegiatan Belajar Mengajar, baik di dalam kelas maupun di luar kelas. kreatifitas guru tidak boleh “mati”, kreativitas guru tergantung kemampuan guru dalam memanfaatkan metode dan strategi mengajar yang ia kuasai dan bagamana menerapkannya dalam kelas.

Semoga…

Penulis : Chapy Kamaria, M.Pd
Kasi Penmad Kanwil Malut

__

Iklan Layanan

Komentar disini

i-malut.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.

 

ARTIKEL TERKAIT

REKOMENDASI

Hadiri Giat Kementrian Agama, Ketum Sinode ke Morotai

Tobelo — Ketua Sinode Gereja Masehi Injili Di Halmahera (GMIH), Pdt. Demianus Ice, usai mendampingi Kapolda Malut dalam kegiatan Vaksinasi Rabu kemarin di Uniera Tobelo, kini sempatkan waktu berkunjung...

KPPD Desa Gosoma, Minta Pemda Halut Bertanggung Jawab

Tobelo — Komunitas Pemuda Pemerhati Desa (KPPD) Gosoma Kecamatan Tobelo, meminta Pemerintah Daerah (Pemda) Halmahera Utara (Halut), bertanggung jawab atas proses Pilkades yang berlangsung di desa setempat. Informasi disampaikan langsung...

Kadis Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan KB Halut...

Tobelo -- AT alias AS, Kepala Dinas (Kadis) Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan KB Pemkab Halut, pada Rabu (22/9) resmi dilaporkan ke KSPKT Polres setempat. AS dilaporkan karena diduga melakukan...

Kapolda Malut Didampingi Ketum GMIH Pantau Kegiatan Vaksinasi...

Tobelo -- Kapolda Maluku Utara (Malut), Irjen Pol, Risyapudin Nursin, yang didampingi Ketua Umum (Ketum) Sinode GMIH, Pdt. Demianus Ice, lakukan pemantauan kegiatan Vaksinasi Nasional yang digelar di Universitas...

Kadispar Tikep; Pariwisata Sumber Penghasilan Penunjang PAD

Tidore -- Jika kita berbicara terkait dengan sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD), maka pariwisata merupakan salah satu sumber penghasilan yang sangat signifikan dalam menunjang PAD pada setiap wilayah pemerintahan...

Mutu Pendidikan Menurun Dimasa Covid-19, Ini Penjelasan Kepala...

Tidore -- Bencana non alam Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) yang menyebar hampir seluruh negara di dunia termasuk Indonesia, telah melumpuhkan berbagai aktivitas pada semua lini termasuk dunia pendidikan. Kepala...

Ini Jawaban Bupati Usman Sidik Atas Harapan dari...

Labuha – Bupati Halmahera Selatan, Usman Sidik, menanggapi permintaan dan juga harapan dari Kerukunan Masyarakat Bajoe (KMB), terkait posisi Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan yang sempat menjadi janji Politik...

Kerukunan Masyarakat Bajoe Taruh Harap Usman-Bassam Bisa Realisasi...

Labuha – Kerukunan Masyarakat Bajoe (KMB) Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), meminta Bupati Usman Sidik dan Wakil Bupati Hasan Ali Bassam Kasuba (Usman-Bassam) agar bisa merealisasikan janji Politiknya pada Kampanye...

Sejumlah Nama Calon Ketua GAMKI Halut Mulai Bermunculan,...

Tobelo -- Meski momentum Konferensi Cabang (Konfercab) Garekan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Cabang Halmahera Utara (Halut), nanti akan digelar pada bulan Oktober mendatang, namun kini sejumlah nama yang...

BERITA UTAMA

ARTIKEL TERKAIT

Menjadi Guru Kreatif yang Kaya Metode

Dalam sebuah kesempatan, saya berkunjung ke sebuah lembaga pendidikan formal untuk suatu tugas, saat itu saya bersama kepala sekolah berkeliling sekolah sambil diskusi bagaimana meningkatkan mutu pendidikan di sekolah itu, tepat di depan satu kelas saya berhenti sejenak dan menyaksikan seorang guru yang terlihat sangat emosional memukul salah satu siswa sambil mengusirnya keluar kelas. Saya kemudian hampiri anak itu lalu bertanya, kenapa anda dipukul dan dikeluarkan? saya tidak bawa Al-Qur’an, jawab siswa tersebut.

Rupanya Pelajaran hari itu adalah Baca Tulis Al-Qur’an, dan bukan hanya satu siswa yg dikeluarkan, tetapi sekitar 7 orang siswa yang dikeluarkan dengan alasan tidak membawa Al-Qur’an. mengapa guru bersangkutan memilih mengeluarkan peserta didik dari kelas saat jam pelajaran berlangsung dengan alasan yang (maaf) sangat tidak berkualitas itu? Bukankah belajar Baca Tulis Al-qur’an itu tidak akan “gagal” meskipun peserta didik tidak membawa al-qur’an? Sebagaimana halnya peserta didik tidak membawa alat praktik biologi atau fisika, kelas tidak boleh “mati” apalagi peserta didik dikeluarkan dari kelas hanya karena alat praktik tidak dibawa peserta didik.

Peserta didik tidak membawa al-qur’an saat materi BTA bukanlah sebuah masalah serius, karena ada banyak metode, teknik, dan atau strategi yang bisa dipakai guru saat belajar BTA, jika ada akibat yang harus ditanggung peserta didik karena tidak menuruti perintah guru, maka mengeluarkan peserta didik disaat jam pelajaran berlangsung adalah keputusan hukuman yang menurut saya kurang tepat. Peserta didik yang tidak patuh dalam konteks ini cukup diberi teguran tanpa dipukul, apalagi dikeluarkan dari kelas.

Idealnya, seorang guru tidak boleh kehabisan ide apalagi miskin metode saat melaksanakan Proses Belajar Mengajar (PBM), kehabisan ide dan miskin metode dapat menjadikan seorang guru mengajar apa adanya, dan bahkan akan terlihat malas di dalam kelas, kelas menjadi “gersang”, bahkan bisa jadi ingin cepat selesai sebelum waktunya.

Potret PBM yang demikian ini jangan sampai terjadi ditempat lain di Maluku Utara atau bahkan di Indonesia, jika sekolah/madrasah berkomitmen meningkatkan prestasi peserta didik sekolah/madrasah. Mutu atau kualitas pendidikan harus diupayakan dengan strategi tertentu, dalam Proses Belajar Mengajar, guru yang “kaya metode” dan menguasai materi ajar tentu akan sangat berbeda dengan guru yang “miskin metode”, dan sudah pasti hasil PBM-nya akan berbeda pula.

Metode mengajar menurut saya “wajib” dipelajari dan dipahami oleh setiap guru, metode mengajar itu bukan sekedar teori, metode mengajar lahir dari proses penelitian yang tidak asal-asalan, sukses melewati uji kelayakan yang tidak sederhana, dan yang merekomendasikan pentingnya memahami dan melaksanakan metode belajar mengajar di Sekolah/Madrasah itu adalah para ahli yang profesional dibidangnya. Karena itu, menyepelekan metode mengajar sama artinya menyepelekan Proses PBM yang berkualitas.

Kurikulum apapun yang akan dipakai sekolah/madrasah, maka metode mengajar menjadi sangat penting untuk dipahami dan dilaksanakan dengan baik sesaui kaidahnya atau sitaksnya oleh guru dalam PBM. Jika tidak demikian maka saya memastikan hanya ada satu metode klasik yang mendominasi dalam PBM, yakni ceramah atau bahkan CBSA (Catat Buku Sampai Habis), sebuah metode yang terbukti telah mematikan kreatifitas belajar dan berpikir peserta didik, metode yang tidak mengajarkan anak didik tentang bagaimana belajar, intinya mengajar dengan ceramah monoton sama dengan menganggap peserta didik ibarat botol kosong yang diisi air, hingga penuh lalu tumpah keluar.

Pernyataan soal metode ceramah di atas bukan berarti ingin menghentikan metode ceramah dalam PBM secara total, akan tetapi porsinya mungkin dikurangi, sehingga PBM menjadi lebih efektif dan menyenangkan dengan metode tertentu yang dikuasai guru. Ceramah menurut saya bisa dijadikan sebagai fungsi penguat dalam PBM (Proses Belajar Mengajar), sehingga seorang guru cukup menggunakannya pada saat tertentu dalam setiap PBM, apapun bidang studi yang diajarkan.

Karena itu, sangat menyedihkan, kalau perubahan dunia yang “makin laju” ini tidak direspon dengan cerdas oleh terutama dunia pendidikan, karena dunia pendidikan juga tidak luput dari dampak sebuah perubahan, perubahan kurikulum misalnya, selain merupakan hasil evaluasi juga merupakan respon terhadap perubahan yang sedang melanda dunia, dan ada hal penting yang perlu diperhatikan dalam perubahan kurikulum tersebut, mulai dari struktur, waktu belajar, proses, hingga penilaian hasil belajar.

Dengan demikian, setiap guru secara individual juga perlu sekali merespon perubahan itu, perlu beradaptasi dengan perubahan yang sedang terjadi dengan senantiasa belajar terus menerus, meningkatkan profesionalismenya, terutama sekali berkaitan dengan tugas dan fungsinya sebagai seorang guru, semakin kreatif dalam mengelola Kegiatan Belajar Mengajar, baik di dalam kelas maupun di luar kelas. kreatifitas guru tidak boleh “mati”, kreativitas guru tergantung kemampuan guru dalam memanfaatkan metode dan strategi mengajar yang ia kuasai dan bagamana menerapkannya dalam kelas.

Semoga…

Penulis : Chapy Kamaria, M.Pd
Kasi Penmad Kanwil Malut

--

BERITA LAINNYA

TERPOPULER