Kehadiran PT Harta Samudra, Harga Ikan Tuna Ekspor Semakin Kompetitif

i-malut.com, MOROTAI — PT Harta Samudra, merupakan salah satu perusahan yang berinvestasi di sektor perikanan berkelas ekspor, perusahan bonavit ini, berkantor pusat di kota ambon, kini melebarkan sayap bisnisnya ke Kabupaten Pulau Morotai, setelah Benny Laos terpilih menjadi Bupati.

Media ini coba menulusuri dunia investasi PT Harta Samudra, yang kiprahnya baru seumur jagung di pulau terdepan ini tetapi telah sukses melakukan ekspor perdana ke negara Vietnam.

Manager PT Harta Samudra, Cabang Morotai, I Made Malihartadana, saat di wawancara, pada saat ekspor ikan tuna loin perdana, Jumat (28/9/2018) malam, diatas dermaga imam lastory, daruba, kecamatan morotai selatan, Ia menceritakan awal mula PT Harta Samudra, masuk berinvestasi di Kabupaten Pulau Morotai. pertama masuk ke Pulau Morotai bulan nopember 2017 dan bertemu kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP). Saat itu disampaikan bahwa ada pembangunan Sentra Kawasan Perikanan Terpadu (SKPT), yang telah dibangun KKP, namun bangunnannya belum tuntas seluruhnya, membuat dirinya ragu, karena belum memenuhi standar ekspor, bila UPI-nya belum dibangun sebagai syarat penunjang KPT.

“Kemudian pada bulan desember kami dapat info dari DKP morotai, bahwa nelayan morotai melakukan penguburan ikan dalam jumlah besar, info ini sangat memprihatinkan dan menggugah kami sebagai perusahan yang berinvestasi di dunia perikanan.” katanya

PT Harta Samudra, menurutnya, kembali dihubungi Pemkab Morotai pada bulan pebruari 2018.

“Kami pun datang ke morotai meninjau kesiapan seluruh bangunan dan penunjang lainnya, tetapi bangunannya pun masih banyak kekurangan terutama UPI-nya, untuk itu kami diminta, bantu membangun semua kekurangan itu, dengan dana yang di keluarkan sampai saat ini sudah 3M, disitulah awal kemitraan atau hubungan kerja sama antara Pemkab Morotai dan PT Harta Samudra dalam mengolah SKPT, ” ungkapnya

Lanjut I Made, seiring waktu berjalan, dana milyaran rupiah telah digulirkan, tentu perusahan berharap, sesuai dengan hasil yang di inginkan.

“Tetapi, kami bersyukur walaupun hasil tangkap nelayan belum sesuai harapan, namun kami sudah bisa lakukan ekspor perdana, hal ini kami lakukan hanya mau menunjukan keseriusan PT HS berinvestasi di pulau morotai.” ujarnya

Dikatakannya, sampai saat ini PT HS selalu berpikir positif kepada nelayan dan Pemkab sebagai mitra kerja, bahwa kurangnya hasil tangkap nelayan morotai saat ini karena cuaca.

“Semoga berikutnya akan lebih baik lagi hasil tangkapannya, sehingga pasokan bahan bakunya stabil, otomatis meningkatkan pendapatan nelayan, menyerap tenaga kerja lebih banyak, meningkatkan PAD morotai karena lancarnya ekspor,” harapnya

Lebih lanjut I Made menuturkan, kebutuhan bahan baku dengan fasilitas perusahan yang ada, sehari harus 5 sampai 10 ton ikan tuna yang dibutuhkan dari hasil tangkap nelayan, agar dapat memenuhi target ekspor yang telah di tetapkan KKP melalui DKP.

“Bila dilihat dari hasil tangkap nelayan saat ini, dengan biaya yang di keluarkan perusahan, belum berbanding lurus, namun ini baru permulaan, kami dari perusahan selalu berpikir pisitif, apabila ada alasan bahwa hasil tangkap tidak maksimal karena body tangkapnya kecil juga tidak benar, karena di ambon juga nelayan punya fasilitas tangkap yang sama, tetapi di ambon nelayan hasil tangkapnya perhari 5 sampai 10 ton. nanti kami pelajari apa masalah yang dihadapi nelayan akan di evaluasi, percuma juga kita kasih kapal besar tapi tidak di gunakan secara maksimal, maka hasilnya sama saja,” jelasnya.

Colstrage penampung Ikan Tuna Loin, di SKPT Morotai

Pihaknya juga berharap kepada nelayan, bila ada hal yang tidak berkenan dari PT HS, agar bicarakan baik-baik untuk mencari solusinya, karena PT HS baru tiga bulan beroperasi di morotai dan langkah ekspor awal ini membuat pihaknya lebih yakin apabila PT HS diberi waktu lebih lama maka, pihaknya akan berbuat dan memberikan manfaat lebih banyak lagi ke nelayan Pulau Morotai.

“Beri waktu tiga tahun aja, kami yakin akan lakukan banyak hal positif dengan program program yang menguntungkan nelayan morotai maupun suplaer, saat ini baru tiga bulan keberadaan kami belum bisa diukurlah. Cuman kami maklumi sikap sebagian nelayan, kami berharap bila ada masalah dengan kami, mari dibicarakan baik baik agar kita saling menunjang dalam bermitra.” ajaknya

Saat ini, kata I Made, kurang lebih 300 lamaran kerja yang masuk ke PT Harta Samudra, namun perusahan belum bisa menerima semuanya, karena bahan baku/ikan yang dimiliki masih sangat minim. Ia menjelaskan, bahwa tenaga kerja yang ada saat ini kurang lebih 60 orang, karena disesuaikan dengan bahan baku yang ada atau hasil tangkap nelayan. I Made pun menegaskan tidak usah ragu dengan PT HS soal harga ikan.

“Sejak bulan september untuk harga beli kami sudah naikkan Rp 37.000/kg, untuk suplaer, karena perusahan kami sudah punya pengalaman ekspor sejak tahun 2010, jadi harga tetap kami jaga. Saat itu kami ekspor ke amerika, namun sejak tahun 2013 kami ekspor ke vietnam, kenapa harus beralih ke vietnam karena di sana kita bisa bangun kerja sama dalam pemberdayaan nelayan kita, karena banyak edukasi yang mereka berikan ke nelayan kita, untuk meningkatkan ketrampilan nelayan maupun kesejahteraannya.” tuturnya mengakhiri.

Red/Rep : (Lilo)

__

Iklan Layanan

Komentar disini

i-malut.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.

 

ARTIKEL TERKAIT

REKOMENDASI

Drupadi BMI Malut Desak Polda Malut Usut Tuntas...

Ternate -- Drupadi Bintang Muda Indonesia (BIM) Maluku Utara (Malut), desak Polda Malut untuk segera mengusut tuntas kasus pemerkosaan yang dilakukan oleh salah satu oknum Polisi berpangkat Briptu pada...

Dampingi Luhut Resmi Pabrik Bahan Baku Batrai, Bupati...

Labuha -- Bupati Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), ikut mendampingi Menteri Koordinator bidang kemaritiman, Luhut Bizar Pandjaitan, dalam peresmian Pabrik bahan baku baterai kendaraan listrik pertama di Indonesia yang memproduksi...

Lagi, Jembatan Pitago Bailengit Rusak

Tobelo -- Sangat memprihatinkan, jembatan Wailamo yang menghubungkan Desa Pitago dan Desa Bailengit Kecamatan Kao Barat Kabupaten Halmahera Utara, lagi-lagi kembali rusak. Padahal, jembatan tersebut belum lama ini telah...

Dinas P3A Malut Bakal Kawal Kasus Pemerkosaan di...

Sofifi -- Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A) Provinsi Maluku Utara (Malut) akan mengawal kasus pemerkosaan terhadap korban yang masih dibawah umur, yang diduga dilakukan oknum Polisi di...

Kembali marak, Babinsa Waiman ingatkan warga terkait Bahaya...

Sanana, Perang terhadap Corona Virus Disease atau Covid-19 belum selesai, bahkan kini ada varian baru terkait virus ini. Untuk itu Pemerintah Indonesia, mulai dari Pusat maupun Daerah kembali mengingatkan...

Bergerak Cepat, DPD BMI Malut Mengakar Hingga ke-Pelosok...

Ternate -- Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Bintang Muda Indonesian (BMI) Maluku Utara, gencar melakukan sosialisasi serta konsolidasi dan verifikasi faktual, guna membentuk DPC Kabupaten/Kota se-Provinsi Maluku Utara (Malut). Hal ini...

Besok, Disdik Kota Ternate Lounching Sekolah Insklusif di...

Ternate - Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Ternate pada Rabu 23 Juni 2021 besok akan Lounching Sekolah Insklusif, bertempat SD Negeri 6 Kota Ternate, Kelurahan Kampung Makasar Barat, Kota Ternate...

Sambut kedatangan Mendagri Tito Karnavian, APMS pasang baliho...

Sanana -- Aliansi Peduli Masyarakat Sula atau APMS kepada media ini memberikan penjelasan terkait Sikap Bupati Sula memutasi dan merotasi 57 jabatan termasuk menon-jobkan Sekda Kepulauan Sula, sebagai perbuatan...

Babinsa Sekom Pelopori Giat Bhakti, ajak Warga dan...

Sanana -- Kelompok Masyarakat Desa yang mempunyai paradigma maju dan berpikir positif adalah suatu kekuatan dan aset untuk membangun sebuah Desa, ditambah lagi dengan Kelompok Mahasiswa dalam satuan tugas...

BERITA UTAMA

Dampingi Luhut Resmi Pabrik Bahan Baku Batrai, Bupati...

Labuha -- Bupati Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), ikut mendampingi Menteri Koordinator bidang kemaritiman, Luhut Bizar Pandjaitan, dalam peresmian Pabrik...

Maslan Jabat PLH Sekda Halsel, Helmi Dikabarkan Sakit

Labuha – Bupati Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), mengangkat Maslan Hi. Hasan,SH,M.Si, Kepala Bagian (Kabag) organisasi sebagai Asisten Perekonomian dan...

ARTIKEL TERKAIT

Kehadiran PT Harta Samudra, Harga Ikan Tuna Ekspor Semakin Kompetitif

i-malut.com, MOROTAI — PT Harta Samudra, merupakan salah satu perusahan yang berinvestasi di sektor perikanan berkelas ekspor, perusahan bonavit ini, berkantor pusat di kota ambon, kini melebarkan sayap bisnisnya ke Kabupaten Pulau Morotai, setelah Benny Laos terpilih menjadi Bupati.

Media ini coba menulusuri dunia investasi PT Harta Samudra, yang kiprahnya baru seumur jagung di pulau terdepan ini tetapi telah sukses melakukan ekspor perdana ke negara Vietnam.

Manager PT Harta Samudra, Cabang Morotai, I Made Malihartadana, saat di wawancara, pada saat ekspor ikan tuna loin perdana, Jumat (28/9/2018) malam, diatas dermaga imam lastory, daruba, kecamatan morotai selatan, Ia menceritakan awal mula PT Harta Samudra, masuk berinvestasi di Kabupaten Pulau Morotai. pertama masuk ke Pulau Morotai bulan nopember 2017 dan bertemu kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP). Saat itu disampaikan bahwa ada pembangunan Sentra Kawasan Perikanan Terpadu (SKPT), yang telah dibangun KKP, namun bangunnannya belum tuntas seluruhnya, membuat dirinya ragu, karena belum memenuhi standar ekspor, bila UPI-nya belum dibangun sebagai syarat penunjang KPT.

“Kemudian pada bulan desember kami dapat info dari DKP morotai, bahwa nelayan morotai melakukan penguburan ikan dalam jumlah besar, info ini sangat memprihatinkan dan menggugah kami sebagai perusahan yang berinvestasi di dunia perikanan.” katanya

PT Harta Samudra, menurutnya, kembali dihubungi Pemkab Morotai pada bulan pebruari 2018.

“Kami pun datang ke morotai meninjau kesiapan seluruh bangunan dan penunjang lainnya, tetapi bangunannya pun masih banyak kekurangan terutama UPI-nya, untuk itu kami diminta, bantu membangun semua kekurangan itu, dengan dana yang di keluarkan sampai saat ini sudah 3M, disitulah awal kemitraan atau hubungan kerja sama antara Pemkab Morotai dan PT Harta Samudra dalam mengolah SKPT, ” ungkapnya

Lanjut I Made, seiring waktu berjalan, dana milyaran rupiah telah digulirkan, tentu perusahan berharap, sesuai dengan hasil yang di inginkan.

“Tetapi, kami bersyukur walaupun hasil tangkap nelayan belum sesuai harapan, namun kami sudah bisa lakukan ekspor perdana, hal ini kami lakukan hanya mau menunjukan keseriusan PT HS berinvestasi di pulau morotai.” ujarnya

Dikatakannya, sampai saat ini PT HS selalu berpikir positif kepada nelayan dan Pemkab sebagai mitra kerja, bahwa kurangnya hasil tangkap nelayan morotai saat ini karena cuaca.

“Semoga berikutnya akan lebih baik lagi hasil tangkapannya, sehingga pasokan bahan bakunya stabil, otomatis meningkatkan pendapatan nelayan, menyerap tenaga kerja lebih banyak, meningkatkan PAD morotai karena lancarnya ekspor,” harapnya

Lebih lanjut I Made menuturkan, kebutuhan bahan baku dengan fasilitas perusahan yang ada, sehari harus 5 sampai 10 ton ikan tuna yang dibutuhkan dari hasil tangkap nelayan, agar dapat memenuhi target ekspor yang telah di tetapkan KKP melalui DKP.

“Bila dilihat dari hasil tangkap nelayan saat ini, dengan biaya yang di keluarkan perusahan, belum berbanding lurus, namun ini baru permulaan, kami dari perusahan selalu berpikir pisitif, apabila ada alasan bahwa hasil tangkap tidak maksimal karena body tangkapnya kecil juga tidak benar, karena di ambon juga nelayan punya fasilitas tangkap yang sama, tetapi di ambon nelayan hasil tangkapnya perhari 5 sampai 10 ton. nanti kami pelajari apa masalah yang dihadapi nelayan akan di evaluasi, percuma juga kita kasih kapal besar tapi tidak di gunakan secara maksimal, maka hasilnya sama saja,” jelasnya.

Colstrage penampung Ikan Tuna Loin, di SKPT Morotai

Pihaknya juga berharap kepada nelayan, bila ada hal yang tidak berkenan dari PT HS, agar bicarakan baik-baik untuk mencari solusinya, karena PT HS baru tiga bulan beroperasi di morotai dan langkah ekspor awal ini membuat pihaknya lebih yakin apabila PT HS diberi waktu lebih lama maka, pihaknya akan berbuat dan memberikan manfaat lebih banyak lagi ke nelayan Pulau Morotai.

“Beri waktu tiga tahun aja, kami yakin akan lakukan banyak hal positif dengan program program yang menguntungkan nelayan morotai maupun suplaer, saat ini baru tiga bulan keberadaan kami belum bisa diukurlah. Cuman kami maklumi sikap sebagian nelayan, kami berharap bila ada masalah dengan kami, mari dibicarakan baik baik agar kita saling menunjang dalam bermitra.” ajaknya

Saat ini, kata I Made, kurang lebih 300 lamaran kerja yang masuk ke PT Harta Samudra, namun perusahan belum bisa menerima semuanya, karena bahan baku/ikan yang dimiliki masih sangat minim. Ia menjelaskan, bahwa tenaga kerja yang ada saat ini kurang lebih 60 orang, karena disesuaikan dengan bahan baku yang ada atau hasil tangkap nelayan. I Made pun menegaskan tidak usah ragu dengan PT HS soal harga ikan.

“Sejak bulan september untuk harga beli kami sudah naikkan Rp 37.000/kg, untuk suplaer, karena perusahan kami sudah punya pengalaman ekspor sejak tahun 2010, jadi harga tetap kami jaga. Saat itu kami ekspor ke amerika, namun sejak tahun 2013 kami ekspor ke vietnam, kenapa harus beralih ke vietnam karena di sana kita bisa bangun kerja sama dalam pemberdayaan nelayan kita, karena banyak edukasi yang mereka berikan ke nelayan kita, untuk meningkatkan ketrampilan nelayan maupun kesejahteraannya.” tuturnya mengakhiri.

Red/Rep : (Lilo)

--

BERITA LAINNYA

TERPOPULER