Tak Bayar Upah Kerja, Kantor dan Pintu Masuk PT Aditama Royal Konstruksi Dipalang Pekerja

i-malut.com, MOROTAI — Proyek Pembangunan Rumah Susun (Rusun) II dari Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Direktorat Jenderal Penyediaan Perumahan, SNVT penyediaan perumahan Maluku Utara, yang dibangun di desa Dehegila, kecamatan Morotai selatan, Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara, dan PT Aditama Royal Konstruksi (ARK) sebagai perusahan pelaksana proyek, karena memenangkan tender dengan nilai proyek Rp. 15.209.535.000, sesuai Nomor Kontrak : HK0203/SNVT-PnPMU/SP/FSK-RUSUN-02/APBN/2018, dengan masa kerja 240 hari.

Proyek Rusun ini penyelesaian pekerjaannya terancam tertunda, karena upah tukang lokal tidak dibayar, padahal sudah memasuki dua bulan digantung, membuat kepala tukang Yoel Momoka bersama anak buahnya mendatangi lokasi proyek pada Rabu (17/10/2018) dan memboikot lokasi proyek dan kantor PT ARK.

“Kami sudah datang berulang-ulang ke pihak perusahan tidak di gubris, alasan biaya sudah di kasih ke mandor bernama Wahyu, sedangkan Wahyu sudah kabur, dan Wahyu itu diangkat oleh perusahan, jadi kalau Wahyu kabur perusahan harus bertanggung jawab bukan lepas tangan,” ungkapnya

Menurut Yoel, mereka digantung sudah dua bulan, sejak tanggal 18/8/2018 sampai pada bulan oktober ini tidak ada kejelasan pembayaran upah kerja mereka.

“Nyaris tiap hari kami datang ke lokasi proyek tapi GM-nya bapak Adrian lepas tangan, padahal kami menuntut hak kami, inikan kami ditipu, karena mereka sesama orang perusahan saling melempar tanggung jawab, makanya hari ini kami boikot kantor dan lokasi proyek, sebagai bentuk protes, agar hak hak kami segera dibayar, bila tidak dibayar maka kami akan duduki lokasi proyek,” tegasnya

Pintu masuk lokasi proyek rusun II dipalang pekerja karena upah kerja mereka tidak dibayar PT ARK

Padahal kata Yoel, hak upah kerja mereka yang harus dibayar hanya Rp. 18.990.000, sebanyak 29 orang.

“Persoalan mandor kaburkan upah kerja bukan urusan kami pekerja, itu urusan perusahan, karena mandor bagian dari perusahan, jadi perusahan tidak bisa lepas tanggung jawab begitu saja dan sampai kapanpun kami tetap menuntut hak kami, ” tandasnya

Sesuai pantauan media ini dilokasi proyek, Yoel bersama karyawannya sekitar 15 orang, yang sudah berada dilokasi proyek sejak pagi, karena tidak di gubris oleh pihak perusahan PT ARK, sehingga mereka bereaksi,

“Torang sodari pagi disini, dan setiap saat seperi ini tapi kami tidak dianggap,” ujar Nikson, Rabu 17/8 di lokasi proyek, salah satu pekerja rusun yang upanya juga belum dibayar.

Salah satu pekerja asal desa Falila, yang upah kerjanya belum dibayar berada dilokasi proyek RUSUN II

Namun sayang sikap tidak terpuji dari pihak perusahan karena menghindari wartawan dan malah mengkelabui wartawan, tepat pukul 11.35 wit, wartawan tiba dilokasi proyek dan berpapasan dengan Adrian selaku General Manager (GM)  PT ARK dan sebagai penanggung jawab proyek dilapangan, tetapi ketika ditanya wartawan apakah bapak GMnya? dengan gagap dia menjawab dan cepat cepat menaiki mobil menuju bandara udara, untuk balik ke jakarta,

“Maaf disini tidak ada orangnya, jadi nanti aja, saya juga mau ke jakarta,” ungkapnya sambil bergegas memasuki mobil avanza.

Wartawan pun masuk ke lokasi proyek dan menanyakan ke salah satu tenaga kerja didalamnya, ternyata yang pergi itu GM dan pengawasnya,

“Yang keluar tadi dan naik ke mobil avanza  itu adalah Adrian (GM) dan Yana, pengawas proyeknya,” ungkap salah satu pekerja

Untuk mendapat penjelasan dari pihak perusahan, media ini coba menghubungi salah satu pegawai Dinas Perkim Pulau Morotai, agar menghubungi Yanna sebagai pengawas proyek rusun, namun sayang Yana-pun tidak mau bertemu wartawan.

“Nanti aja tunggu dari jakarta akan datang besok siang,” ungkap yana, terdengar dari suara speaker handphone pegawai perkim.

Sesuai informasi yang dihimpun dilokasi proyek, upah yang belum dibayar bukan hanya 29 orang pekerja dari desa Falila,  tetapi masih ada tenaga kerja dari sejumlah desa, bahkan ada yang sudah dibayar tapi jauh dari upah kerja yang sudah di tetapkan  bersama.

Red/Rep : (Lilo)

__

Iklan Layanan

Komentar disini

i-malut.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.

 

ARTIKEL TERKAIT

REKOMENDASI

Bupati Sula atau Ajudannya yang berbohong, ini Kronologisnya

Sanana -- Polemik Surat Gubernur Maluku Utara (Malut) Abd. Gani Kasuba melalui Sekprov yang ditujukan kepada Bupati Sula Fifian Adeningsi Mus (FAM) mulai mendapatkan titik terang. Infomasi yang berhasil dihimpun...

Soal Surat dari Sekprov, Kader Nasdem menduga Bupati...

Sanana -- Pernyataan Bupati Kepulauan Sula (Kepsul) Fifian Adeningsi Mus (FAM) yang menyatakan bahwa belum menerima surat dari Sekretaris Provinsi (Sekprov) Maluku Utara, Drs. Hasanuddin Abdul Kadir, menuai tanggapan...

Kompak dengan Jersey Kuning Golkar, Bupati FAM terima...

Sanana -- Berlangsung di Istana Daerah Desa Fagudu-Sanana, sekilas orang mengira ini adalah acara Partai Golkar, setelah mendekat perkiraan itu keliru, karena ini adalah acara Vaksinasi Covid-19 ke dua...

Kota Ternate Bakal Punya Pasar Hewan, Ini Rencana...

Ternate – Dinas Pertanian Kota Ternate berencana membangun pasar  hewan di Kelurahan Sulamadaha kecamatan Ternate Barat, di Tahun 2021. Hal ini dianggap sangat penting guna mengatur dan menertibkan para...

Misteri Surat Sekprov ke Bupati Sula, siapa yang...

Sanana -- Baru-baru ini diacara Pelantikan dan Rakerda Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DPD. Kepulauan Sula (Kepsul) dan Pulau Taliabu (Pultab) Rabu 16/6/2021, Bupati Kepsul Fifian Adeningsih Mus, mengeluarkan pernyataan...

Ali Kembali Pimpin Dinas PUPR, Dahrun Tetap Dalam...

Labuha – Bupati Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), Usman Sidik, kembali melakukan pergantian ditingkat Pimpinan SKPD. Kali ini Plt. Kepala Dinas (Kadis) Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, Dahrun Kasuba harus...

Babinsa Fuata ikut Sosialisasikan Filariasis ke Warga Desa

Sanana -- Baru-baru ini Bintara Pemuda Desa (Babinsa), di Desa Fuata-Kec. Sulabesi Selatan, Kab. Kepulauan Sula (Kepsul), Serda. Yusran Fataruba ikut mensosialisasikan penyakit Kaki Gajah (Filariasis) kepada Masyarakat Desa,...

Akhirnya Pemprov Malut Hentikan Proses Produksi Dilokasi Smelter...

Sofifi -- Insiden terbakarnya tungku smelter PT. Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), di Kabupaten Halmahera Tengah (Halteng), Provinsi Maluku Utara (Malut), ditanggapi serius oleh Pemprov melalui Dinas Tenaga...

KASN sebut mutasi massal pejabat di Sula sebagai...

Sanana -- Komisi Aparatur Sipil Negara atau KASN akhirnya angkat bicara terkait mutasi massal yang dilakukan Bupati Kepulauan Sula (Kepsul), Fifian Adeningsih Mus (FAM). Sumardi, S.E., M.Si asisten Komisioner KASN...

BERITA UTAMA

ARTIKEL TERKAIT

Tak Bayar Upah Kerja, Kantor dan Pintu Masuk PT Aditama Royal Konstruksi Dipalang Pekerja

i-malut.com, MOROTAI — Proyek Pembangunan Rumah Susun (Rusun) II dari Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Direktorat Jenderal Penyediaan Perumahan, SNVT penyediaan perumahan Maluku Utara, yang dibangun di desa Dehegila, kecamatan Morotai selatan, Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara, dan PT Aditama Royal Konstruksi (ARK) sebagai perusahan pelaksana proyek, karena memenangkan tender dengan nilai proyek Rp. 15.209.535.000, sesuai Nomor Kontrak : HK0203/SNVT-PnPMU/SP/FSK-RUSUN-02/APBN/2018, dengan masa kerja 240 hari.

Proyek Rusun ini penyelesaian pekerjaannya terancam tertunda, karena upah tukang lokal tidak dibayar, padahal sudah memasuki dua bulan digantung, membuat kepala tukang Yoel Momoka bersama anak buahnya mendatangi lokasi proyek pada Rabu (17/10/2018) dan memboikot lokasi proyek dan kantor PT ARK.

“Kami sudah datang berulang-ulang ke pihak perusahan tidak di gubris, alasan biaya sudah di kasih ke mandor bernama Wahyu, sedangkan Wahyu sudah kabur, dan Wahyu itu diangkat oleh perusahan, jadi kalau Wahyu kabur perusahan harus bertanggung jawab bukan lepas tangan,” ungkapnya

Menurut Yoel, mereka digantung sudah dua bulan, sejak tanggal 18/8/2018 sampai pada bulan oktober ini tidak ada kejelasan pembayaran upah kerja mereka.

“Nyaris tiap hari kami datang ke lokasi proyek tapi GM-nya bapak Adrian lepas tangan, padahal kami menuntut hak kami, inikan kami ditipu, karena mereka sesama orang perusahan saling melempar tanggung jawab, makanya hari ini kami boikot kantor dan lokasi proyek, sebagai bentuk protes, agar hak hak kami segera dibayar, bila tidak dibayar maka kami akan duduki lokasi proyek,” tegasnya

Pintu masuk lokasi proyek rusun II dipalang pekerja karena upah kerja mereka tidak dibayar PT ARK

Padahal kata Yoel, hak upah kerja mereka yang harus dibayar hanya Rp. 18.990.000, sebanyak 29 orang.

“Persoalan mandor kaburkan upah kerja bukan urusan kami pekerja, itu urusan perusahan, karena mandor bagian dari perusahan, jadi perusahan tidak bisa lepas tanggung jawab begitu saja dan sampai kapanpun kami tetap menuntut hak kami, ” tandasnya

Sesuai pantauan media ini dilokasi proyek, Yoel bersama karyawannya sekitar 15 orang, yang sudah berada dilokasi proyek sejak pagi, karena tidak di gubris oleh pihak perusahan PT ARK, sehingga mereka bereaksi,

“Torang sodari pagi disini, dan setiap saat seperi ini tapi kami tidak dianggap,” ujar Nikson, Rabu 17/8 di lokasi proyek, salah satu pekerja rusun yang upanya juga belum dibayar.

Salah satu pekerja asal desa Falila, yang upah kerjanya belum dibayar berada dilokasi proyek RUSUN II

Namun sayang sikap tidak terpuji dari pihak perusahan karena menghindari wartawan dan malah mengkelabui wartawan, tepat pukul 11.35 wit, wartawan tiba dilokasi proyek dan berpapasan dengan Adrian selaku General Manager (GM)  PT ARK dan sebagai penanggung jawab proyek dilapangan, tetapi ketika ditanya wartawan apakah bapak GMnya? dengan gagap dia menjawab dan cepat cepat menaiki mobil menuju bandara udara, untuk balik ke jakarta,

“Maaf disini tidak ada orangnya, jadi nanti aja, saya juga mau ke jakarta,” ungkapnya sambil bergegas memasuki mobil avanza.

Wartawan pun masuk ke lokasi proyek dan menanyakan ke salah satu tenaga kerja didalamnya, ternyata yang pergi itu GM dan pengawasnya,

“Yang keluar tadi dan naik ke mobil avanza  itu adalah Adrian (GM) dan Yana, pengawas proyeknya,” ungkap salah satu pekerja

Untuk mendapat penjelasan dari pihak perusahan, media ini coba menghubungi salah satu pegawai Dinas Perkim Pulau Morotai, agar menghubungi Yanna sebagai pengawas proyek rusun, namun sayang Yana-pun tidak mau bertemu wartawan.

“Nanti aja tunggu dari jakarta akan datang besok siang,” ungkap yana, terdengar dari suara speaker handphone pegawai perkim.

Sesuai informasi yang dihimpun dilokasi proyek, upah yang belum dibayar bukan hanya 29 orang pekerja dari desa Falila,  tetapi masih ada tenaga kerja dari sejumlah desa, bahkan ada yang sudah dibayar tapi jauh dari upah kerja yang sudah di tetapkan  bersama.

Red/Rep : (Lilo)

--

BERITA LAINNYA

TERPOPULER