Bakeka Sebagai Tradisi Musiman

Bakeka sesungguhnya satu kata yang memang sulit diterima secara nalar pikiran, sebab dia mistis dan susah untuk di analogi, kemudian kata bakeka juga senantiasa tidak ditemukan dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) bahkan kamus ilmiah lainnya.
Namun bakeka adalah sebuah istilah atau sebutan para orang tua-tua kita dulu yang biasanya hanya dilakukan oleh orang-orang yang berniat jahat yang sebutan lainnya itu adalah fit-fit bagi suwanggi perempuan, dan bakoko bagi suwanggi laki-laki. Sehingga bakeka sama dengan basuwanggi.

Pada konteks bakeka hari ini, memang jauh berbeda dengan bakeka yang diuraikan sebelumnya. Namun bakeka kali ini adalah bakeka musiman yang biasanya terjadi disaat momentum pemelihan Legislatif, dan potensi tradisi ini akan terjadi pada pileg 2019 mendatang.

Bakeka sebagai prilaku masyarakat yang biasanya mendatangi para calon-calon DPRD untuk menharapkan sesuatu dari mereka berupa materi baik uang atau pakesan. Kondisi ini biasa kita temui pada kalangan masyarakat kita yang rata-rata pemilih pragmatis. kalaupun pada pemilih rasional ada juga kemungkinan tapi jarang kita temukan. ironisnya  yang terjadi antara bakeka dan yang di keka sama-sama saling “Baku Akal”. Hal ini sangat mengganggu akal sehat kita dalam berdemokrasi.

Pada sisi lain nalar bakeka ini sesungguhnya terbentuk karena ada factor eksnya, dimana ada sebab dan akibatnya. Jika dilihat dari prespektif politik ada kemungkinan rasa kekecewaan yang membekas, disebabkan karena janji politik yang tidak dipenuhi oleh calon DPRD saat berkampanye dan seketika terpilih mereka ini tidak lagi diperhatiakan. Sehingga bisa jadi untuk periode ke dua atau calon DPRD yang baru, senantiasa yang terbangun adalah opini yang sama, yakni tidak ada bedanya yang dua periode dengan yang baru mencalonkan diri, semuanya pasti memiliki janji politik yang palsu, dan justru statemen yang berkembang saat ini di tengah-tengah masyarakat terutama pemilih pragmatis adalah “siapa yang kase dosi saya pilih”. Pada aspek ini sesungguhnya adalah kesalahan berfikir yang melahirkan tindakan yang keliru.

Olehnya itu sebagai Calon anggota DPRD harus mengkaji persolan ini, sehingga tidak lagi  berkembang sebagai suatu fenomena yang keliru dan menjadi aib politik. Untuk kedepan dalam materi-materi kampanye sebaiknya tidak terlalu bicara soal janji politik, ketika terpilih akan lakukan ini, itu dan seterusnya. akan tetapi yang terpenting adalah mengajak masyarakat menjadi pemilih yang cerdas, rasional, mencari solusi dengan memperjuangan titik-titik kebijakan yang terukur dan bisa membantu masyarakat, misalkan dengan kondisi kopra yang anjlok, paling tidak ada gagasan terbaik bagaimana masyarakat dibentuk untuk mencari alternative lain dengan membuat tanaman bulanan yang harga pasarnya itu dimediasi oleh DPRD. Sebab sangat membantu masyarakat dalam mengingkatkan ekonomi keluarganya.

Selanjutnya adalah soal issu pendidikan yang kemudian menjadi materi kampanye, mulai dari akses transportasi yang bermasaalah, anak putus sekolah sampai pada solusi penyelesaian soal biaya pendidikan. Ada kemungkinan pos-pos anggaran yang mestinya diperjuangankan ketika terpilih. Hal-hal sederhana beginilah masyarakat dengan mudah memahami maksud dan keingian kita sesungguhnya. Jangan meninabobohkan masyarakat dengan janji-janji, tetapi “mari kita berjuang bersama rakyat”.

__

Iklan Layanan

Komentar disini

i-malut.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.

 

ARTIKEL TERKAIT

REKOMENDASI

Hadiri Giat Kementrian Agama, Ketum Sinode ke Morotai

Tobelo — Ketua Sinode Gereja Masehi Injili Di Halmahera (GMIH), Pdt. Demianus Ice, usai mendampingi Kapolda Malut dalam kegiatan Vaksinasi Rabu kemarin di Uniera Tobelo, kini sempatkan waktu berkunjung...

KPPD Desa Gosoma, Minta Pemda Halut Bertanggung Jawab

Tobelo — Komunitas Pemuda Pemerhati Desa (KPPD) Gosoma Kecamatan Tobelo, meminta Pemerintah Daerah (Pemda) Halmahera Utara (Halut), bertanggung jawab atas proses Pilkades yang berlangsung di desa setempat. Informasi disampaikan langsung...

Kadis Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan KB Halut...

Tobelo -- AT alias AS, Kepala Dinas (Kadis) Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan KB Pemkab Halut, pada Rabu (22/9) resmi dilaporkan ke KSPKT Polres setempat. AS dilaporkan karena diduga melakukan...

Kapolda Malut Didampingi Ketum GMIH Pantau Kegiatan Vaksinasi...

Tobelo -- Kapolda Maluku Utara (Malut), Irjen Pol, Risyapudin Nursin, yang didampingi Ketua Umum (Ketum) Sinode GMIH, Pdt. Demianus Ice, lakukan pemantauan kegiatan Vaksinasi Nasional yang digelar di Universitas...

Kadispar Tikep; Pariwisata Sumber Penghasilan Penunjang PAD

Tidore -- Jika kita berbicara terkait dengan sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD), maka pariwisata merupakan salah satu sumber penghasilan yang sangat signifikan dalam menunjang PAD pada setiap wilayah pemerintahan...

Mutu Pendidikan Menurun Dimasa Covid-19, Ini Penjelasan Kepala...

Tidore -- Bencana non alam Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) yang menyebar hampir seluruh negara di dunia termasuk Indonesia, telah melumpuhkan berbagai aktivitas pada semua lini termasuk dunia pendidikan. Kepala...

Ini Jawaban Bupati Usman Sidik Atas Harapan dari...

Labuha – Bupati Halmahera Selatan, Usman Sidik, menanggapi permintaan dan juga harapan dari Kerukunan Masyarakat Bajoe (KMB), terkait posisi Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan yang sempat menjadi janji Politik...

Kerukunan Masyarakat Bajoe Taruh Harap Usman-Bassam Bisa Realisasi...

Labuha – Kerukunan Masyarakat Bajoe (KMB) Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), meminta Bupati Usman Sidik dan Wakil Bupati Hasan Ali Bassam Kasuba (Usman-Bassam) agar bisa merealisasikan janji Politiknya pada Kampanye...

Sejumlah Nama Calon Ketua GAMKI Halut Mulai Bermunculan,...

Tobelo -- Meski momentum Konferensi Cabang (Konfercab) Garekan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Cabang Halmahera Utara (Halut), nanti akan digelar pada bulan Oktober mendatang, namun kini sejumlah nama yang...

BERITA UTAMA

ARTIKEL TERKAIT

Bakeka Sebagai Tradisi Musiman

Bakeka sesungguhnya satu kata yang memang sulit diterima secara nalar pikiran, sebab dia mistis dan susah untuk di analogi, kemudian kata bakeka juga senantiasa tidak ditemukan dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) bahkan kamus ilmiah lainnya.
Namun bakeka adalah sebuah istilah atau sebutan para orang tua-tua kita dulu yang biasanya hanya dilakukan oleh orang-orang yang berniat jahat yang sebutan lainnya itu adalah fit-fit bagi suwanggi perempuan, dan bakoko bagi suwanggi laki-laki. Sehingga bakeka sama dengan basuwanggi.

Pada konteks bakeka hari ini, memang jauh berbeda dengan bakeka yang diuraikan sebelumnya. Namun bakeka kali ini adalah bakeka musiman yang biasanya terjadi disaat momentum pemelihan Legislatif, dan potensi tradisi ini akan terjadi pada pileg 2019 mendatang.

Bakeka sebagai prilaku masyarakat yang biasanya mendatangi para calon-calon DPRD untuk menharapkan sesuatu dari mereka berupa materi baik uang atau pakesan. Kondisi ini biasa kita temui pada kalangan masyarakat kita yang rata-rata pemilih pragmatis. kalaupun pada pemilih rasional ada juga kemungkinan tapi jarang kita temukan. ironisnya  yang terjadi antara bakeka dan yang di keka sama-sama saling “Baku Akal”. Hal ini sangat mengganggu akal sehat kita dalam berdemokrasi.

Pada sisi lain nalar bakeka ini sesungguhnya terbentuk karena ada factor eksnya, dimana ada sebab dan akibatnya. Jika dilihat dari prespektif politik ada kemungkinan rasa kekecewaan yang membekas, disebabkan karena janji politik yang tidak dipenuhi oleh calon DPRD saat berkampanye dan seketika terpilih mereka ini tidak lagi diperhatiakan. Sehingga bisa jadi untuk periode ke dua atau calon DPRD yang baru, senantiasa yang terbangun adalah opini yang sama, yakni tidak ada bedanya yang dua periode dengan yang baru mencalonkan diri, semuanya pasti memiliki janji politik yang palsu, dan justru statemen yang berkembang saat ini di tengah-tengah masyarakat terutama pemilih pragmatis adalah “siapa yang kase dosi saya pilih”. Pada aspek ini sesungguhnya adalah kesalahan berfikir yang melahirkan tindakan yang keliru.

Olehnya itu sebagai Calon anggota DPRD harus mengkaji persolan ini, sehingga tidak lagi  berkembang sebagai suatu fenomena yang keliru dan menjadi aib politik. Untuk kedepan dalam materi-materi kampanye sebaiknya tidak terlalu bicara soal janji politik, ketika terpilih akan lakukan ini, itu dan seterusnya. akan tetapi yang terpenting adalah mengajak masyarakat menjadi pemilih yang cerdas, rasional, mencari solusi dengan memperjuangan titik-titik kebijakan yang terukur dan bisa membantu masyarakat, misalkan dengan kondisi kopra yang anjlok, paling tidak ada gagasan terbaik bagaimana masyarakat dibentuk untuk mencari alternative lain dengan membuat tanaman bulanan yang harga pasarnya itu dimediasi oleh DPRD. Sebab sangat membantu masyarakat dalam mengingkatkan ekonomi keluarganya.

Selanjutnya adalah soal issu pendidikan yang kemudian menjadi materi kampanye, mulai dari akses transportasi yang bermasaalah, anak putus sekolah sampai pada solusi penyelesaian soal biaya pendidikan. Ada kemungkinan pos-pos anggaran yang mestinya diperjuangankan ketika terpilih. Hal-hal sederhana beginilah masyarakat dengan mudah memahami maksud dan keingian kita sesungguhnya. Jangan meninabobohkan masyarakat dengan janji-janji, tetapi “mari kita berjuang bersama rakyat”.

--

BERITA LAINNYA

TERPOPULER