Didemo, Diancam Pakai Golok dan Bambu Runcing, Kades Lusuo Mengakui Kesalahannya

i-malut.com, MOROTAI — Kurang lebih 150 orang Masyarakat Desa Lusuo, Kecamatan Morotai Utara, Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara, terdiri dari laki-laki dan perempuan, baik orang tua dan anak muda berbaur menyerbu Kantor Desa Lusuo, dengan membawa soanduk bertuliskan “Kami Masyarakat Desa Lusuo Menolak Pengolahan Tambang Pasir Besi di Desa Lusuo”. Jum’at (14/12), pukul 08.30 Wit.

Massa Aksi mendatangi Kantor Desa, membawa golok dan bambu runcing, sebagai bentuk protes dan perlawanan terhadap kebijakan sepihak yang diambil Kepala Desa Lusuo atas nama masyarakat dan diduga telah menerima uang dari pihak perusahan tambang pasir besi PT Karunia Artha Kamilin (KAK), serta telah menandatangani surat pernyataan atas nama masyarakat, menerima perusahan tersebut beroperasi diwilayah mereka, karena beberapa waktu lalu para Kades lingkar tambang telah mengadakan pertemuan dengan PT KAK dan DLH Pemprov Malut, di Muara Hotel, Kota Ternate.

Ratusan massa aksi, laki-laki dan perempuan menuju Kantor Desa Lusuo, melakukan protes terhadap Kadesnya, menggunakan golok dan bambu runcing.

Informasi aksi massa itu diterima dari Sekertaris Desa Loleo, Kecamatan Morotai Jaya, Abdul Totou, jumat 14 Desember 2018 sore. Melalui telpon seluler Abdul bercerita, pada jumat pagi tadi Ia dari Desa Pangeo menuju Kota Daruba, melalui desa Lusuo, sampai di depan kantor desa terlihat ratusan massa laki-laki dan perempuan merontak di depan kantor Desa Lusuo menggunakan golok dan bambu runcing, Abdul pun penasaran ingin tau apa yang terjadi, Ia pun turun dan masuk ke kantor desa.

“Ternyata hampir semua masyarakat desa Lusuo Kecamatan Morut melakukan demo besar-besaran, karena marah terhadap tindakan kades mereka. Aksi ini adalah bentuk protes dan perlawanan terkait rencana pengelolaan tambang pasir besi oleh PT. Karunia Arta Kamilin di wilayah mereka,” jelas Abdul

Selain itu kata Abdul, kepala Desa Lusuo, Tamrin Seba, didepan warganya mengakui telah menandatangani surat pernyataan bahwa masyarakatnya menerima kehadiran PT KAK untuk mengelola pasir besi, disitulah puncak kemarahan warganya.

“Menurut Kades Lusuo yang tanda tangan selain dia, Kades Korago, Kades Gorugo dan Kades Loleo,” ungkapnya

Lanjutnya, Warga Lusuo yang datang membawa golok dan bambu runcing tidak segan segan mengancam dengan mengacungkan parang dan tombak ke hadapan Kades Lusuo Tamrin Seba.

“Dengan nada marah warga meminta Kades dan teman-teman kades yang lain, secara sepihak telah membuat pernyataan tertulis kepada Dinas Lingkungan Hidup Provinsi  Maluku Utara dan PT KAK, yang isinya bahwa masyarakat desa lingkar tambang pada prinsipnya terbuka dan menerima pengolahan tambang pasir besi di wilayah Morotai Utara dan Morotai Jaya, segera menarik kembali dan membatalkan karena masyarakat seluruhnya menolak,” tuntutan warga, cerita Sekertaris Desa Loleo itu.

Tambahnya, Kades Lusuo Tamrin Seba, tidak berdaya, dan mengakui kesalahannya di hadapan warganya,

“Saya akan tetap bersama masyarakat, kalau masyarakat menolak saya juga menolak perusahan tambang pasir besi tersebut.” ungkap Amdul meniru perkataan Kades Lusuo Tamrin Seba.

Diakhir penyampain, Abdul Totou, Sekdes Loleomenegaskan bahwa mereka telah bentuk forum penolakan tambang pasir besi,

“Forum Perwakilan Masyarakat Lingkar Tambang( FPMLT), terdiri dari Desa Lusuo, desa Toara, desa Gorugo, desa Pangeo dan Loleo. Masing masing desa 5 orang, dalam waktu dekat akan membuat pertemuan akbar, mengundang seluruh kepala desa lingkar tambang untuk mempertanggung jawabkan sikap mereka,” tegasnya

Setelah mendengar pernyataan Kades Lusuo, bahwa Kades akan bersama warga, massa aksi-pun membubarkan diri pada pukul 10.00 Wit dan melanjutkan aksi di sepanjang pantai Desa Lusuo dengan meminta Kades ikut ke pantai, setelah di pantai massa aksi ibu ibu yang bawa golok, mendekatkan golok ke leher kades lusu.

“Sampai perusahan tambang masuk di Desa Lusuo berarti ulah Kades, masyarakat tidak segan-segan eksekusi kades,” teriak ibu-ibu

Ratusan warga Desa Lusuo, Morut, membawa golok dan bambu runcing melanjutkan aksi di sepanjang pantai.

Dan pada pukul 10.45 Wit masyarakat membubarkan diri kembali ke rumah masing-masing.

 

__

Iklan Layanan

Komentar disini

i-malut.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.

 

ARTIKEL TERKAIT

REKOMENDASI

Bupati Sula atau Ajudannya yang berbohong, ini Kronologisnya

Sanana -- Polemik Surat Gubernur Maluku Utara (Malut) Abd. Gani Kasuba melalui Sekprov yang ditujukan kepada Bupati Sula Fifian Adeningsi Mus (FAM) mulai mendapatkan titik terang. Infomasi yang berhasil dihimpun...

Soal Surat dari Sekprov, Kader Nasdem menduga Bupati...

Sanana -- Pernyataan Bupati Kepulauan Sula (Kepsul) Fifian Adeningsi Mus (FAM) yang menyatakan bahwa belum menerima surat dari Sekretaris Provinsi (Sekprov) Maluku Utara, Drs. Hasanuddin Abdul Kadir, menuai tanggapan...

Kompak dengan Jersey Kuning Golkar, Bupati FAM terima...

Sanana -- Berlangsung di Istana Daerah Desa Fagudu-Sanana, sekilas orang mengira ini adalah acara Partai Golkar, setelah mendekat perkiraan itu keliru, karena ini adalah acara Vaksinasi Covid-19 ke dua...

Kota Ternate Bakal Punya Pasar Hewan, Ini Rencana...

Ternate – Dinas Pertanian Kota Ternate berencana membangun pasar  hewan di Kelurahan Sulamadaha kecamatan Ternate Barat, di Tahun 2021. Hal ini dianggap sangat penting guna mengatur dan menertibkan para...

Misteri Surat Sekprov ke Bupati Sula, siapa yang...

Sanana -- Baru-baru ini diacara Pelantikan dan Rakerda Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DPD. Kepulauan Sula (Kepsul) dan Pulau Taliabu (Pultab) Rabu 16/6/2021, Bupati Kepsul Fifian Adeningsih Mus, mengeluarkan pernyataan...

Ali Kembali Pimpin Dinas PUPR, Dahrun Tetap Dalam...

Labuha – Bupati Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), Usman Sidik, kembali melakukan pergantian ditingkat Pimpinan SKPD. Kali ini Plt. Kepala Dinas (Kadis) Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, Dahrun Kasuba harus...

Babinsa Fuata ikut Sosialisasikan Filariasis ke Warga Desa

Sanana -- Baru-baru ini Bintara Pemuda Desa (Babinsa), di Desa Fuata-Kec. Sulabesi Selatan, Kab. Kepulauan Sula (Kepsul), Serda. Yusran Fataruba ikut mensosialisasikan penyakit Kaki Gajah (Filariasis) kepada Masyarakat Desa,...

Akhirnya Pemprov Malut Hentikan Proses Produksi Dilokasi Smelter...

Sofifi -- Insiden terbakarnya tungku smelter PT. Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), di Kabupaten Halmahera Tengah (Halteng), Provinsi Maluku Utara (Malut), ditanggapi serius oleh Pemprov melalui Dinas Tenaga...

KASN sebut mutasi massal pejabat di Sula sebagai...

Sanana -- Komisi Aparatur Sipil Negara atau KASN akhirnya angkat bicara terkait mutasi massal yang dilakukan Bupati Kepulauan Sula (Kepsul), Fifian Adeningsih Mus (FAM). Sumardi, S.E., M.Si asisten Komisioner KASN...

BERITA UTAMA

ARTIKEL TERKAIT

Didemo, Diancam Pakai Golok dan Bambu Runcing, Kades Lusuo Mengakui Kesalahannya

i-malut.com, MOROTAI — Kurang lebih 150 orang Masyarakat Desa Lusuo, Kecamatan Morotai Utara, Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara, terdiri dari laki-laki dan perempuan, baik orang tua dan anak muda berbaur menyerbu Kantor Desa Lusuo, dengan membawa soanduk bertuliskan “Kami Masyarakat Desa Lusuo Menolak Pengolahan Tambang Pasir Besi di Desa Lusuo”. Jum’at (14/12), pukul 08.30 Wit.

Massa Aksi mendatangi Kantor Desa, membawa golok dan bambu runcing, sebagai bentuk protes dan perlawanan terhadap kebijakan sepihak yang diambil Kepala Desa Lusuo atas nama masyarakat dan diduga telah menerima uang dari pihak perusahan tambang pasir besi PT Karunia Artha Kamilin (KAK), serta telah menandatangani surat pernyataan atas nama masyarakat, menerima perusahan tersebut beroperasi diwilayah mereka, karena beberapa waktu lalu para Kades lingkar tambang telah mengadakan pertemuan dengan PT KAK dan DLH Pemprov Malut, di Muara Hotel, Kota Ternate.

Ratusan massa aksi, laki-laki dan perempuan menuju Kantor Desa Lusuo, melakukan protes terhadap Kadesnya, menggunakan golok dan bambu runcing.

Informasi aksi massa itu diterima dari Sekertaris Desa Loleo, Kecamatan Morotai Jaya, Abdul Totou, jumat 14 Desember 2018 sore. Melalui telpon seluler Abdul bercerita, pada jumat pagi tadi Ia dari Desa Pangeo menuju Kota Daruba, melalui desa Lusuo, sampai di depan kantor desa terlihat ratusan massa laki-laki dan perempuan merontak di depan kantor Desa Lusuo menggunakan golok dan bambu runcing, Abdul pun penasaran ingin tau apa yang terjadi, Ia pun turun dan masuk ke kantor desa.

“Ternyata hampir semua masyarakat desa Lusuo Kecamatan Morut melakukan demo besar-besaran, karena marah terhadap tindakan kades mereka. Aksi ini adalah bentuk protes dan perlawanan terkait rencana pengelolaan tambang pasir besi oleh PT. Karunia Arta Kamilin di wilayah mereka,” jelas Abdul

Selain itu kata Abdul, kepala Desa Lusuo, Tamrin Seba, didepan warganya mengakui telah menandatangani surat pernyataan bahwa masyarakatnya menerima kehadiran PT KAK untuk mengelola pasir besi, disitulah puncak kemarahan warganya.

“Menurut Kades Lusuo yang tanda tangan selain dia, Kades Korago, Kades Gorugo dan Kades Loleo,” ungkapnya

Lanjutnya, Warga Lusuo yang datang membawa golok dan bambu runcing tidak segan segan mengancam dengan mengacungkan parang dan tombak ke hadapan Kades Lusuo Tamrin Seba.

“Dengan nada marah warga meminta Kades dan teman-teman kades yang lain, secara sepihak telah membuat pernyataan tertulis kepada Dinas Lingkungan Hidup Provinsi  Maluku Utara dan PT KAK, yang isinya bahwa masyarakat desa lingkar tambang pada prinsipnya terbuka dan menerima pengolahan tambang pasir besi di wilayah Morotai Utara dan Morotai Jaya, segera menarik kembali dan membatalkan karena masyarakat seluruhnya menolak,” tuntutan warga, cerita Sekertaris Desa Loleo itu.

Tambahnya, Kades Lusuo Tamrin Seba, tidak berdaya, dan mengakui kesalahannya di hadapan warganya,

“Saya akan tetap bersama masyarakat, kalau masyarakat menolak saya juga menolak perusahan tambang pasir besi tersebut.” ungkap Amdul meniru perkataan Kades Lusuo Tamrin Seba.

Diakhir penyampain, Abdul Totou, Sekdes Loleomenegaskan bahwa mereka telah bentuk forum penolakan tambang pasir besi,

“Forum Perwakilan Masyarakat Lingkar Tambang( FPMLT), terdiri dari Desa Lusuo, desa Toara, desa Gorugo, desa Pangeo dan Loleo. Masing masing desa 5 orang, dalam waktu dekat akan membuat pertemuan akbar, mengundang seluruh kepala desa lingkar tambang untuk mempertanggung jawabkan sikap mereka,” tegasnya

Setelah mendengar pernyataan Kades Lusuo, bahwa Kades akan bersama warga, massa aksi-pun membubarkan diri pada pukul 10.00 Wit dan melanjutkan aksi di sepanjang pantai Desa Lusuo dengan meminta Kades ikut ke pantai, setelah di pantai massa aksi ibu ibu yang bawa golok, mendekatkan golok ke leher kades lusu.

“Sampai perusahan tambang masuk di Desa Lusuo berarti ulah Kades, masyarakat tidak segan-segan eksekusi kades,” teriak ibu-ibu

Ratusan warga Desa Lusuo, Morut, membawa golok dan bambu runcing melanjutkan aksi di sepanjang pantai.

Dan pada pukul 10.45 Wit masyarakat membubarkan diri kembali ke rumah masing-masing.

 

--

BERITA LAINNYA

TERPOPULER