Refleksi Akhir Tahun, FKUB dan Kesbangpol Pulau Morotai Gelar Dialog Lintas Agama

i-malut.com, MOROTAI — Bentuk Refleksi Akhir Tahun 2018 dan menyambut tahun baru 2019, Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) bersama Badan Kesatuan Bangsa Politik (KESBANGPOL) Pulau Morotai, mengisi dengan menggelar dialog lintas tokoh agama, di ruang meeting (Ruming) Resto Damonge, Desa Juanga, Kecamatan Morotai Selatan,  Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara, Sabtu (22/12) pukul 10.00 Wit.

Dialog tersebut mengusung tema, “Memperkokoh Tri Kerukunan Antar Umat Beragama Dalam Rangka Menyongsong Morotai Daloha.”

Ketua FKUB Kabupaten Pulau Morotai Amirudin Ahmad, memimpin dialog.

“Ada rencana untuk rapat khusus internal namun karena kaban sudah mengundang kita dalam dialog ini maka kiranya dapat kita sampaikan apa-apa yg menjadi pokok dialog kita.” ungkapnya mengawali penyampaiannya.

Lanjutnya, secara otonom, FKUB akan bekerja sesuai tupoksi, kemudian hal-hal yang menyangkut finansial FKUB, penjelasannya nanti dari pihak KESBANGPOL.

“Terkait internal kita, nanti kita revisi kembali terutama anggota yang ikut orasi harus ada masukan dari anggota lain untuk kemudian bagaimana menyikapi mereka.” jelasnya

Ungkap Amirudian langsung ditanggapi Alhadar Djaguna, Kepala Badan Kesbangpol Pulau Morotai. menurutnya, perbincangan terkait tugas peran dan fungsi FKUB semoga mendapat respon positif ditengah-tengah kehidupan bernegara, sebab FKUB adalah mitra terdepan dalam rangka menciptakan kedamaian kerukunan umat beragama. FKUB adalah forum yang SKDnya resmi dan peranannya sangat strategi.

“Sekedar mengorek bahwa landasan susunan kepengurusan FKUB Morotai memang sudah ada, tapi layaknya sebagai sebuah organisasi dari sisi administrasi belum kita penuhi sesuai standar. Ada beberapa indikator penyebab diantaranya logo FKUB belum ada kemudian visi misi dan program juga harus jelas sehingga kerja kita bisa maksimal.” sindirnya

Lanjutnya, ada beberapa kelemahan yang menjadi catatan bagi kita semua, bahwa Kesbangpol kadang kewalahan untuk melakukan koordinasi dgn FKUB. Kesbangpol sebagai mitra masih kekurangan data dan informasi mengenai peristiwa agama, masih minim komunikasi antara pengurus, Kesbang setiap saat menyampaikan laporan dan tidak bisa berbuat apa-apa jika tidak ada laporan dari FKUB.

Dalam internal, kata Alhadar, organisasi perlu dilakukan intensif komunikasi antar anggota agar segala informasi dapat terklarifikasi dengan. Menurutnya, faktor yang dapat menimbulkan faktor ancaman, misalnya kesepakatan tentang kerukunan antar umat beragama, baru terjadi antara pimpinan belum menyentuh pada arus bawah padahal potensi konflik ada di masyarakat bawah.

“Fenomena hilangnya kepercayaan terhadap pemerintah, pertimbangan faham keagamaan lewat informasi terbuka sangat sensitif, kesenjangan ekonomi yang menimbulkan saling curiga antara masyarakat, kemudian masuk lagi pada rana politik, ini harus kita baca secara signifikan untuk menghindari gejolak yang lebih fatal lagi.” katanya mengingatkan

Munculnya berbagai paham agama, tambah Alhadar, juga merupakan rongrongan dan sebuah ancaman yang mesti diwaspadai, walaupun oleh pihak kepolisian sudah dilakukan lakah-langkah pencegahan.

“Saya himbau jangan coba-coba ada yang membawa minum keras kedalam acara malam tahun baru, karena hal ini juga bisa dimanfaatkan pihak ketiga yang tidak ingin perdamaian antara umat beragama di Indonesia terbentuk aman.” Pintanya

Masalah aksi terkait penodaan Agama, menurut Alhadar, adalah isu yang tidak benar dan itu sudah selesai, untuk itu Ia mengajak kepada anggota FKUB agar bisa meminimalisir isu-isu seperti ini.

Harapan yang sama disampaikan Masrin Tauda, sekretaris FKUB Pulau Morotai.

“FKUB walaupun belum optimal kinerjanya dalam periode pertama, namun di periode yang baru saya liat ada semangat, jika ada gesekan yang terjadi dimasyarakat kita langsung turun. Kita menyadari adanya kelemahan forum ini, karena disebabkan oleh terputusnya jalur koordinasi oleh signal telekomunikasi. Padahal kita tahu bahwa keharmonisan dalam berkomunikasi dapat saling menguntungkan bagi kita.” tuturnya

Sementara pengurus FKUB, Pdt. Erwin hape, sangat berharap organisasi ini punya slogan yang dapat menyatukan umat.

“Kita harus punya Slogan bersama dalam rangka merawat kemajumukan, cinta damai. Hal ini dapat diterapkan ketika kita kembali ke pemerintah desa dalam rangka merawat keharmonisan, jadi semacam ada spanduk di setiap kecamatan, “cinta damai dalam sebuah kemajemukan”, harapnya

Berbeda dengan yang lainnya, Peringatan keras datang dari ketua DPC NU Pulau Morotai, Ustadz Din Aswan. Ia menegaskan, sebagai anggota FKUB seharusnya tidak boleh terlibat dalam berbagai bentuk aksi massa, untuk itu Din meminta, agar anggota FKUB yang terlibat harus diganti.

“Jangan kita ikut-ikutan menggoreng isu-isu yang belum jelas dasar hukumnya.” semburnya

Ia juga menginformasikan bahwa FKUB sudah menetapkan Desa Tanjung Saleh, Kecamatan Morotai Utara, sebagai desa binaan FKUB, kemudian ada juga

“Kami sudah persiapkan program pembinaan pemuda antar umat beragama.” katanya

Saran juga datang dari Yanto Hi Gani, Sekretaris Kesbangpol Pulau Morotai.

“Saya sarankan ketua FKUB siapkan program kemudian temui Bupati dan sampaikan, saya yakin beliau akan membijaki. Banyak peran yang bisa kita ambil bukan hanya di organisasi ini namun semua tergantung anggaran.” pintanya

Terakhir, Pdt Ebson Lela, wakil ketua FKUB Pulau Morotai, menutup dialog ini dengan mengingatkan bahwa, FKUB ini sangat penting, namun yang paling inti adalah peran tokoh agama untuk menyampaikan pesan kerukunan lewat mesjid dan gereja.

__

Iklan Layanan

Komentar disini

i-malut.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.

 

ARTIKEL TERKAIT

REKOMENDASI

Kadis Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan KB Halut...

Tobelo -- AT alias AS, Kepala Dinas (Kadis) Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan KB Pemkab Halut, pada Rabu (22/9) resmi dilaporkan ke KSPKT Polres setempat. AS dilaporkan karena diduga melakukan...

Kapolda Malut Didampingi Ketum GMIH Pantau Kegiatan Vaksinasi...

Tobelo -- Kapolda Maluku Utara (Malut), Irjen Pol, Risyapudin Nursin, yang didampingi Ketua Umum (Ketum) Sinode GMIH, Pdt. Demianus Ice, lakukan pemantauan kegiatan Vaksinasi Nasional yang digelar di Universitas...

Kadispar Tikep; Pariwisata Sumber Penghasilan Penunjang PAD

Tidore -- Jika kita berbicara terkait dengan sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD), maka pariwisata merupakan salah satu sumber penghasilan yang sangat signifikan dalam menunjang PAD pada setiap wilayah pemerintahan...

Mutu Pendidikan Menurun Dimasa Covid-19, Ini Penjelasan Kepala...

Tidore -- Bencana non alam Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) yang menyebar hampir seluruh negara di dunia termasuk Indonesia, telah melumpuhkan berbagai aktivitas pada semua lini termasuk dunia pendidikan. Kepala...

Ini Jawaban Bupati Usman Sidik Atas Harapan dari...

Labuha – Bupati Halmahera Selatan, Usman Sidik, menanggapi permintaan dan juga harapan dari Kerukunan Masyarakat Bajoe (KMB), terkait posisi Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan yang sempat menjadi janji Politik...

Kerukunan Masyarakat Bajoe Taruh Harap Usman-Bassam Bisa Realisasi...

Labuha – Kerukunan Masyarakat Bajoe (KMB) Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), meminta Bupati Usman Sidik dan Wakil Bupati Hasan Ali Bassam Kasuba (Usman-Bassam) agar bisa merealisasikan janji Politiknya pada Kampanye...

Sejumlah Nama Calon Ketua GAMKI Halut Mulai Bermunculan,...

Tobelo -- Meski momentum Konferensi Cabang (Konfercab) Garekan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Cabang Halmahera Utara (Halut), nanti akan digelar pada bulan Oktober mendatang, namun kini sejumlah nama yang...

Prihatin Sikap Kontraktor, Pedagang di Kawasan Kantor Bupati...

Tobelo -- Sejumlah pedagang kecil yang berjualan dikawasan Kantor Bupati Halmahera Utara (Halut), pada Jumat (17/9) sore tadi sekitar Pukul, 17.00 WIT, mengamuk sambil menyebut prihatin dengan sikap kontaktor...

PDAM Tikep Nunggak Pajak 8 Bulan, Bapenda Tikep...

Tidore -- Memasuki 9 bulan, Perusahan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Tidore Kepulauan (Tikep) tidak melakukan pembayaran pajak, membuat Badan Pendapatan Daerah (BAPENDA) Kota Tikep kehabisan akal. Sekertaris Bapenda Tikep,...

BERITA UTAMA

ARTIKEL TERKAIT

Refleksi Akhir Tahun, FKUB dan Kesbangpol Pulau Morotai Gelar Dialog Lintas Agama

i-malut.com, MOROTAI — Bentuk Refleksi Akhir Tahun 2018 dan menyambut tahun baru 2019, Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) bersama Badan Kesatuan Bangsa Politik (KESBANGPOL) Pulau Morotai, mengisi dengan menggelar dialog lintas tokoh agama, di ruang meeting (Ruming) Resto Damonge, Desa Juanga, Kecamatan Morotai Selatan,  Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara, Sabtu (22/12) pukul 10.00 Wit.

Dialog tersebut mengusung tema, “Memperkokoh Tri Kerukunan Antar Umat Beragama Dalam Rangka Menyongsong Morotai Daloha.”

Ketua FKUB Kabupaten Pulau Morotai Amirudin Ahmad, memimpin dialog.

“Ada rencana untuk rapat khusus internal namun karena kaban sudah mengundang kita dalam dialog ini maka kiranya dapat kita sampaikan apa-apa yg menjadi pokok dialog kita.” ungkapnya mengawali penyampaiannya.

Lanjutnya, secara otonom, FKUB akan bekerja sesuai tupoksi, kemudian hal-hal yang menyangkut finansial FKUB, penjelasannya nanti dari pihak KESBANGPOL.

“Terkait internal kita, nanti kita revisi kembali terutama anggota yang ikut orasi harus ada masukan dari anggota lain untuk kemudian bagaimana menyikapi mereka.” jelasnya

Ungkap Amirudian langsung ditanggapi Alhadar Djaguna, Kepala Badan Kesbangpol Pulau Morotai. menurutnya, perbincangan terkait tugas peran dan fungsi FKUB semoga mendapat respon positif ditengah-tengah kehidupan bernegara, sebab FKUB adalah mitra terdepan dalam rangka menciptakan kedamaian kerukunan umat beragama. FKUB adalah forum yang SKDnya resmi dan peranannya sangat strategi.

“Sekedar mengorek bahwa landasan susunan kepengurusan FKUB Morotai memang sudah ada, tapi layaknya sebagai sebuah organisasi dari sisi administrasi belum kita penuhi sesuai standar. Ada beberapa indikator penyebab diantaranya logo FKUB belum ada kemudian visi misi dan program juga harus jelas sehingga kerja kita bisa maksimal.” sindirnya

Lanjutnya, ada beberapa kelemahan yang menjadi catatan bagi kita semua, bahwa Kesbangpol kadang kewalahan untuk melakukan koordinasi dgn FKUB. Kesbangpol sebagai mitra masih kekurangan data dan informasi mengenai peristiwa agama, masih minim komunikasi antara pengurus, Kesbang setiap saat menyampaikan laporan dan tidak bisa berbuat apa-apa jika tidak ada laporan dari FKUB.

Dalam internal, kata Alhadar, organisasi perlu dilakukan intensif komunikasi antar anggota agar segala informasi dapat terklarifikasi dengan. Menurutnya, faktor yang dapat menimbulkan faktor ancaman, misalnya kesepakatan tentang kerukunan antar umat beragama, baru terjadi antara pimpinan belum menyentuh pada arus bawah padahal potensi konflik ada di masyarakat bawah.

“Fenomena hilangnya kepercayaan terhadap pemerintah, pertimbangan faham keagamaan lewat informasi terbuka sangat sensitif, kesenjangan ekonomi yang menimbulkan saling curiga antara masyarakat, kemudian masuk lagi pada rana politik, ini harus kita baca secara signifikan untuk menghindari gejolak yang lebih fatal lagi.” katanya mengingatkan

Munculnya berbagai paham agama, tambah Alhadar, juga merupakan rongrongan dan sebuah ancaman yang mesti diwaspadai, walaupun oleh pihak kepolisian sudah dilakukan lakah-langkah pencegahan.

“Saya himbau jangan coba-coba ada yang membawa minum keras kedalam acara malam tahun baru, karena hal ini juga bisa dimanfaatkan pihak ketiga yang tidak ingin perdamaian antara umat beragama di Indonesia terbentuk aman.” Pintanya

Masalah aksi terkait penodaan Agama, menurut Alhadar, adalah isu yang tidak benar dan itu sudah selesai, untuk itu Ia mengajak kepada anggota FKUB agar bisa meminimalisir isu-isu seperti ini.

Harapan yang sama disampaikan Masrin Tauda, sekretaris FKUB Pulau Morotai.

“FKUB walaupun belum optimal kinerjanya dalam periode pertama, namun di periode yang baru saya liat ada semangat, jika ada gesekan yang terjadi dimasyarakat kita langsung turun. Kita menyadari adanya kelemahan forum ini, karena disebabkan oleh terputusnya jalur koordinasi oleh signal telekomunikasi. Padahal kita tahu bahwa keharmonisan dalam berkomunikasi dapat saling menguntungkan bagi kita.” tuturnya

Sementara pengurus FKUB, Pdt. Erwin hape, sangat berharap organisasi ini punya slogan yang dapat menyatukan umat.

“Kita harus punya Slogan bersama dalam rangka merawat kemajumukan, cinta damai. Hal ini dapat diterapkan ketika kita kembali ke pemerintah desa dalam rangka merawat keharmonisan, jadi semacam ada spanduk di setiap kecamatan, “cinta damai dalam sebuah kemajemukan”, harapnya

Berbeda dengan yang lainnya, Peringatan keras datang dari ketua DPC NU Pulau Morotai, Ustadz Din Aswan. Ia menegaskan, sebagai anggota FKUB seharusnya tidak boleh terlibat dalam berbagai bentuk aksi massa, untuk itu Din meminta, agar anggota FKUB yang terlibat harus diganti.

“Jangan kita ikut-ikutan menggoreng isu-isu yang belum jelas dasar hukumnya.” semburnya

Ia juga menginformasikan bahwa FKUB sudah menetapkan Desa Tanjung Saleh, Kecamatan Morotai Utara, sebagai desa binaan FKUB, kemudian ada juga

“Kami sudah persiapkan program pembinaan pemuda antar umat beragama.” katanya

Saran juga datang dari Yanto Hi Gani, Sekretaris Kesbangpol Pulau Morotai.

“Saya sarankan ketua FKUB siapkan program kemudian temui Bupati dan sampaikan, saya yakin beliau akan membijaki. Banyak peran yang bisa kita ambil bukan hanya di organisasi ini namun semua tergantung anggaran.” pintanya

Terakhir, Pdt Ebson Lela, wakil ketua FKUB Pulau Morotai, menutup dialog ini dengan mengingatkan bahwa, FKUB ini sangat penting, namun yang paling inti adalah peran tokoh agama untuk menyampaikan pesan kerukunan lewat mesjid dan gereja.

--

BERITA LAINNYA

TERPOPULER