Meski APBN Bagus, Pemerintah Sulit Capai Target Pertumbuhan

i-malut.com, JAKARTA — Realisasi pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018 pada tahun keempat pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) membaik. Perbaikan tercermin dari realisasi penerimaan negara yang mencapai Rp1.942,3 triliun atau 102,5 persen dari target awal Rp1.894,7 triliun.

Ini merupakan kali pertama bagi pemerintahan Kabinet Kerja mampu menembus target mereka. Dari sisi belanja, rekor sama juga tercipta.

Pada 2018 kemarin, belanja pemerintah juga mencatatkan rekor penyerapan tertinggi dalam empat tahun terakhir. Belanja negara mencapai Rp2.202,2 triliun atau 99,2 persen dari pagu senilai Rp2.220,7 triliun.

Tak ketinggalan, defisit anggaran hanya 1,76 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) dan keseimbangan primer hanya defisit Rp1,8 triliun. Sayangnya, perbaikan kinerja APBN tersebut justru berbanding terbalik dengan pencapaian asumsi makro.

Hampir semua asumsi makro yang ditargetkan pemerintah meleset dari target. Hanya asumsi inflasi yang masih sesuai target karena berhasil dikendalikan di level 3,13 persen dari target 3,5 persen.

Sementara pertumbuhan ekonomi, diperkirakan sepanjang 2018 hanya akan 5,15 persen dari target APBN 2018 yang 5,4 persen. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan kesulitan mencapai asumsi makro tersebut terjadi karena pengaruh ketidakpastian ekonomi global. Ketidakpastian tersebut banyak menimbulkan masalah.

Salah satunya pada penurunan sejumlah harga komoditas di pasar dunia. Misalnya, harga minyak mentah WTI anjlok 26,2 persen, minyak Brent turun 20,9 persen, batu bara menyusut 7,2 persen, dan komoditas pangan merosot 4,87 persen.

Pelemahan harga komoditas tersebut telah turut menekan pertumbuhan ekonomi Indonesia. “Dengan kondisi tersebut kami perkirakan pertumbuhan ekonomi akan di angka 5,15 persen, sedikit lebih rendah dari outlook kemarin di 5,17 persen karena tren ekonomi yang mulai melambat, terlihat dari permintaan dan harga komoditas yang menuju ke bawah sejak semester II, khususnya kuartal IV,” ujarnya di Kementerian Keuangan, seperti dilansir CNN Indonesia, Kamis (3/1).

Pencapaian yang sama juga terlihat pada nilai tukar. Nilai tukar rupiah tercatat anjlok ke level Rp14.247 per dolar Amerika Serikat (AS), menjauh dari asumsi APBN yang hanya Rp13.400 per dolar AS.

Sri Mulyani mengatakan masalah nilai tukar terjadi akibat normalisasi kebijakan bank sentral AS, The Federal Reserve. Normalisasi tersebut telah membalikkan arus modal asing dari Tanah Air ke Negeri Paman Sam.

Walhasil, depresiasi kurs rupiah tak bisa dihindari. Mata uang garuda melemah 6,89 persen. Depresiasi ini lebih tinggi dari renminbi China 5,71 persen, peso Filipina 5,24 persen, won Korea Selatan 4,36 persen, Malaysia 2,15 persen, dan dolar Singapura 1,95 persen. Begitu pula dibandingkan dengan baht Thailand dan yen Jepang yang masih terapresiasi, masing-masing 0,69 persen dan 2,44 persen.

“Tapi tingkat depresiasi ini masih lebih rendah jika dibandingkan dengan mata uang lainnya di negara-negara berkembang, seperti Turki, Argentina, dan Brazil,” katanya.

Yang lain, terkait harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Oils Price/ICP) yang mencapai US$67,5 per barel. Padahal, asumsi awal hanya US$45 per barel. Kemudian, lifting minyak hanya 776 ribu per barel dari target 800 ribu per barel dan lifting gas hanya 1,136 juta per barel dari asumsi 1,2 juta per barel.

“Hal ini karena harga minyak mentah dunia sempat naik di awal tahun,” pungkasnya.

__

Iklan Layanan

Komentar disini

i-malut.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.

 

ARTIKEL TERKAIT

REKOMENDASI

Bupati Sula atau Ajudannya yang berbohong, ini Kronologisnya

Sanana -- Polemik Surat Gubernur Maluku Utara (Malut) Abd. Gani Kasuba melalui Sekprov yang ditujukan kepada Bupati Sula Fifian Adeningsi Mus (FAM) mulai mendapatkan titik terang. Infomasi yang berhasil dihimpun...

Soal Surat dari Sekprov, Kader Nasdem menduga Bupati...

Sanana -- Pernyataan Bupati Kepulauan Sula (Kepsul) Fifian Adeningsi Mus (FAM) yang menyatakan bahwa belum menerima surat dari Sekretaris Provinsi (Sekprov) Maluku Utara, Drs. Hasanuddin Abdul Kadir, menuai tanggapan...

Kompak dengan Jersey Kuning Golkar, Bupati FAM terima...

Sanana -- Berlangsung di Istana Daerah Desa Fagudu-Sanana, sekilas orang mengira ini adalah acara Partai Golkar, setelah mendekat perkiraan itu keliru, karena ini adalah acara Vaksinasi Covid-19 ke dua...

Kota Ternate Bakal Punya Pasar Hewan, Ini Rencana...

Ternate – Dinas Pertanian Kota Ternate berencana membangun pasar  hewan di Kelurahan Sulamadaha kecamatan Ternate Barat, di Tahun 2021. Hal ini dianggap sangat penting guna mengatur dan menertibkan para...

Misteri Surat Sekprov ke Bupati Sula, siapa yang...

Sanana -- Baru-baru ini diacara Pelantikan dan Rakerda Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DPD. Kepulauan Sula (Kepsul) dan Pulau Taliabu (Pultab) Rabu 16/6/2021, Bupati Kepsul Fifian Adeningsih Mus, mengeluarkan pernyataan...

Ali Kembali Pimpin Dinas PUPR, Dahrun Tetap Dalam...

Labuha – Bupati Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), Usman Sidik, kembali melakukan pergantian ditingkat Pimpinan SKPD. Kali ini Plt. Kepala Dinas (Kadis) Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, Dahrun Kasuba harus...

Babinsa Fuata ikut Sosialisasikan Filariasis ke Warga Desa

Sanana -- Baru-baru ini Bintara Pemuda Desa (Babinsa), di Desa Fuata-Kec. Sulabesi Selatan, Kab. Kepulauan Sula (Kepsul), Serda. Yusran Fataruba ikut mensosialisasikan penyakit Kaki Gajah (Filariasis) kepada Masyarakat Desa,...

Akhirnya Pemprov Malut Hentikan Proses Produksi Dilokasi Smelter...

Sofifi -- Insiden terbakarnya tungku smelter PT. Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), di Kabupaten Halmahera Tengah (Halteng), Provinsi Maluku Utara (Malut), ditanggapi serius oleh Pemprov melalui Dinas Tenaga...

KASN sebut mutasi massal pejabat di Sula sebagai...

Sanana -- Komisi Aparatur Sipil Negara atau KASN akhirnya angkat bicara terkait mutasi massal yang dilakukan Bupati Kepulauan Sula (Kepsul), Fifian Adeningsih Mus (FAM). Sumardi, S.E., M.Si asisten Komisioner KASN...

BERITA UTAMA

ARTIKEL TERKAIT

Meski APBN Bagus, Pemerintah Sulit Capai Target Pertumbuhan

i-malut.com, JAKARTA — Realisasi pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018 pada tahun keempat pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) membaik. Perbaikan tercermin dari realisasi penerimaan negara yang mencapai Rp1.942,3 triliun atau 102,5 persen dari target awal Rp1.894,7 triliun.

Ini merupakan kali pertama bagi pemerintahan Kabinet Kerja mampu menembus target mereka. Dari sisi belanja, rekor sama juga tercipta.

Pada 2018 kemarin, belanja pemerintah juga mencatatkan rekor penyerapan tertinggi dalam empat tahun terakhir. Belanja negara mencapai Rp2.202,2 triliun atau 99,2 persen dari pagu senilai Rp2.220,7 triliun.

Tak ketinggalan, defisit anggaran hanya 1,76 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) dan keseimbangan primer hanya defisit Rp1,8 triliun. Sayangnya, perbaikan kinerja APBN tersebut justru berbanding terbalik dengan pencapaian asumsi makro.

Hampir semua asumsi makro yang ditargetkan pemerintah meleset dari target. Hanya asumsi inflasi yang masih sesuai target karena berhasil dikendalikan di level 3,13 persen dari target 3,5 persen.

Sementara pertumbuhan ekonomi, diperkirakan sepanjang 2018 hanya akan 5,15 persen dari target APBN 2018 yang 5,4 persen. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan kesulitan mencapai asumsi makro tersebut terjadi karena pengaruh ketidakpastian ekonomi global. Ketidakpastian tersebut banyak menimbulkan masalah.

Salah satunya pada penurunan sejumlah harga komoditas di pasar dunia. Misalnya, harga minyak mentah WTI anjlok 26,2 persen, minyak Brent turun 20,9 persen, batu bara menyusut 7,2 persen, dan komoditas pangan merosot 4,87 persen.

Pelemahan harga komoditas tersebut telah turut menekan pertumbuhan ekonomi Indonesia. “Dengan kondisi tersebut kami perkirakan pertumbuhan ekonomi akan di angka 5,15 persen, sedikit lebih rendah dari outlook kemarin di 5,17 persen karena tren ekonomi yang mulai melambat, terlihat dari permintaan dan harga komoditas yang menuju ke bawah sejak semester II, khususnya kuartal IV,” ujarnya di Kementerian Keuangan, seperti dilansir CNN Indonesia, Kamis (3/1).

Pencapaian yang sama juga terlihat pada nilai tukar. Nilai tukar rupiah tercatat anjlok ke level Rp14.247 per dolar Amerika Serikat (AS), menjauh dari asumsi APBN yang hanya Rp13.400 per dolar AS.

Sri Mulyani mengatakan masalah nilai tukar terjadi akibat normalisasi kebijakan bank sentral AS, The Federal Reserve. Normalisasi tersebut telah membalikkan arus modal asing dari Tanah Air ke Negeri Paman Sam.

Walhasil, depresiasi kurs rupiah tak bisa dihindari. Mata uang garuda melemah 6,89 persen. Depresiasi ini lebih tinggi dari renminbi China 5,71 persen, peso Filipina 5,24 persen, won Korea Selatan 4,36 persen, Malaysia 2,15 persen, dan dolar Singapura 1,95 persen. Begitu pula dibandingkan dengan baht Thailand dan yen Jepang yang masih terapresiasi, masing-masing 0,69 persen dan 2,44 persen.

“Tapi tingkat depresiasi ini masih lebih rendah jika dibandingkan dengan mata uang lainnya di negara-negara berkembang, seperti Turki, Argentina, dan Brazil,” katanya.

Yang lain, terkait harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Oils Price/ICP) yang mencapai US$67,5 per barel. Padahal, asumsi awal hanya US$45 per barel. Kemudian, lifting minyak hanya 776 ribu per barel dari target 800 ribu per barel dan lifting gas hanya 1,136 juta per barel dari asumsi 1,2 juta per barel.

“Hal ini karena harga minyak mentah dunia sempat naik di awal tahun,” pungkasnya.

--

BERITA LAINNYA

TERPOPULER