Jadikan Istri PSK dan Perkosa Putri, Pria Singapura Dibui 25,5 Tahun

 

i-malut.com — Pria Singapura yang memaksa istrinya menjadi pekerja seks komersial (PSK) dijatuhi hukuman penjara 25,5 tahun serta 24 kali cambukan, dalam sidang, Selasa (19/2).

Pria pengangguran berusia 27 tahun itu memaksa istrinya menjadi perempuan penghibur agar mendapat uang untuk membiayai susu dan popok anak mereka.

Tak hanya itu, dia juga memerkosa anak perempuannya berusia 6 tahun. Keponakannya, berusia 13 tahun, juga menjadi korban pelecehan seksual.

“Anda monster,” kata hakim Pengadilan Tinggi, Chan Seng Onn, saat sidang, seperti dikutip dari The Straits Times via iNews, Rabu (20/2).

“Perilaku seksual yang kejam, pelanggaran yang belum pernah terjadi sebelumnya serta keterlibatannya secara seksual dalam mengeksploitasi tiga perempuan paling rentan, yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya untuk melindungi mereka,” kata hakim.

Sementara itu jaksa menyebut kasus menjadikan istri sebagai PSK ini sebagai kejahatan perdagangan manusia paling parah di Singapura.

Menurut jaksa, pelaku, tidak disebutkan identitasnya untuk melindungi jati diri para korban, melakukan kekerasan kepada istrinya (28) secara terus menerus.

Selama 3 bulan, yakni Juni hingga Agustus 2016, sang istri melayani 138 pria lalu penghasilan yang didapat yakni 11.000 dolar Singapura diserahkan kepada pelaku. Pelaku menjual istrinya secara online serta mengajarinya bagaimana cara mencari pria hidung belang.

Setiap 1 jam kencan, dia dibayar antara 80 dan 100 dolar dan 120 dolar Singapura untuk 2 jam.

Kasus ini terungkap setelah ibu pelaku melaporkan anaknya ke polisi pada 20 Agustus 2016 karena perilaku seks menyimpang terhadap cucunya. Setelah menelusuri, ternyata menantunya juga menjadi korban kebrutalan seksual pelaku.

Pengadilan juga menyebut, pelaku memiliki sejarah panjang melakukan kekerasan kepada istrinya, bahkan sebelum mereka menikah pada 2012.

Dia mulai memukuli korban pada 2009, setahun setelah mereka memulai hubungan. Kekerasan semakin parah bahkan saat korban tengah hamil. Sejak Juni 2015, pelaku memukulinya setidaknya sepekan sekali.

Sementara itu korban tidak berani mengadu ke keluarga maupun polisi karena diancam akan dibunuh.

Sebuah penilaian psikiatris menyebut, pelaku memiliki kepribadian antisosial dan berisiko bagi putrinya. Laporan juga mencatat dia merasa sombong dengan melakukan eksploitasi seksual terhadap korban.

__

Iklan Layanan

Komentar disini

i-malut.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

 

ARTIKEL TERKAIT

REKOMENDASI

Ike Sebut SPSI Malut Bakal Kawal Hak-hak Korban...

Ternate -- Pimpinan Daerah Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PD-SPSI) Maluku Utara (Malut), menyikapi insiden terbakarnya tungku smelter PT. Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), di Kabupaten Halmahera Tengah (Halteng). Ketua...

Siap-Siap, Guru yang ‘Lompat’ Duduki Jabatan Struktural Bakal...

Labuha - Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), bakal mengembalikan sejumlah pegawai fungsional (guru) yang saat ini menduduki jabatan struktural disejumlah SKPD, baik Eselon II, III dan IV,...

Soal Tunggakan 1 Milyar di PDAM, Pemkot Ternate...

Ternate -- Pemerintah Kota (Pemkot) Ternate masih menunggak pada Perusahan Daerah Air Minum (PDAM) kurang lebih 1 Milyar. Tunggakan tersebut terjadi saat Pemkot Ternate menempati X-Kantor Gubernur. Walikota Ternate M....

Langkah Cepat Nakertrans Malut Selidiki Insiden Kebakaran di...

Sofifi -- Insiden terbakarnya tungku smelter PT. Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), pada Selasa, 15 Juni 2021 kemarin, menelan korban luka bakar sebanyak 6 orang karyawannya. Insiden ini langsung...

Usai dilantik Ramli Tidore nyatakan PKS siap bantu...

Sanana -- Acara Pelantikan dan Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Pengurus MPD, DPD dan DED, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kab. Kepulauan Sula (Kepsul) dan Kab. Pulau Taliabu (Pultab) yang di...

Babinsa Bajo, PAM Kunker Wabup Kepsul

Sanana -- Bintara Pembina Desa (Babinsa) Bajo-Kec. Sanana Utara, Koptu. Arifin Kemhay, baru-baru ini melakukan Pengamanan (PAM) bersama Bhabinkamtibmas dan Petugas lainnya, mengawal Kunjungan Kerja (Kunker-red) Wakil Bupati (Wabup)...

LSM LIRA Malut Mengutuk Keras Pemukulan Wartawan Binpers...

Ternate -- Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Lumbung Rakyat Indonesia (LIRA) Maluku Utara (Malut), mengutuk keras tindakan pemukulan terhadap salah satu wartawan Berita Investigasi Nasional (Binpers) Biro Maluku Utara. Ketua LSM...

EGP dengan teguran Gubernur, Ningsih terus lakukan Pergantian

Sanana -- Anjing menggongong Kafilah tetap berlalu menjadi pribahasa yang tepat untuk menggambarkan Pemerintah Daerah Kabupaten Kepulauan Sula (Kepsul) dibawah Kepemimpinan Kepala Daerah (Bupati-red) Fifian Adeningsih Mus. Bagaimana tidak,...

F-Demokrat DPRD Kepsul, ingatkan Bupati Penyerapan DAK 2021

Sanana -- Fraksi Demokrat, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kepulauan Sula (Kepsul), mengingatkan Bupati Kepsul, Fifian Adeningsih Mus terkait penyerapan anggaran Dana Alokasi Khusus (DAK) Tahun 2021. Melalui Sekretaris Ajis...

BERITA UTAMA

Ningsih diperintahkan kembalikan posisi 57 Pejabat di Pemkab...

QS Al-Baqarah Ayat 153 : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ "Wahai orang-orang yang...

ARTIKEL TERKAIT

Jadikan Istri PSK dan Perkosa Putri, Pria Singapura Dibui 25,5 Tahun

 

i-malut.com — Pria Singapura yang memaksa istrinya menjadi pekerja seks komersial (PSK) dijatuhi hukuman penjara 25,5 tahun serta 24 kali cambukan, dalam sidang, Selasa (19/2).

Pria pengangguran berusia 27 tahun itu memaksa istrinya menjadi perempuan penghibur agar mendapat uang untuk membiayai susu dan popok anak mereka.

Tak hanya itu, dia juga memerkosa anak perempuannya berusia 6 tahun. Keponakannya, berusia 13 tahun, juga menjadi korban pelecehan seksual.

“Anda monster,” kata hakim Pengadilan Tinggi, Chan Seng Onn, saat sidang, seperti dikutip dari The Straits Times via iNews, Rabu (20/2).

“Perilaku seksual yang kejam, pelanggaran yang belum pernah terjadi sebelumnya serta keterlibatannya secara seksual dalam mengeksploitasi tiga perempuan paling rentan, yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya untuk melindungi mereka,” kata hakim.

Sementara itu jaksa menyebut kasus menjadikan istri sebagai PSK ini sebagai kejahatan perdagangan manusia paling parah di Singapura.

Menurut jaksa, pelaku, tidak disebutkan identitasnya untuk melindungi jati diri para korban, melakukan kekerasan kepada istrinya (28) secara terus menerus.

Selama 3 bulan, yakni Juni hingga Agustus 2016, sang istri melayani 138 pria lalu penghasilan yang didapat yakni 11.000 dolar Singapura diserahkan kepada pelaku. Pelaku menjual istrinya secara online serta mengajarinya bagaimana cara mencari pria hidung belang.

Setiap 1 jam kencan, dia dibayar antara 80 dan 100 dolar dan 120 dolar Singapura untuk 2 jam.

Kasus ini terungkap setelah ibu pelaku melaporkan anaknya ke polisi pada 20 Agustus 2016 karena perilaku seks menyimpang terhadap cucunya. Setelah menelusuri, ternyata menantunya juga menjadi korban kebrutalan seksual pelaku.

Pengadilan juga menyebut, pelaku memiliki sejarah panjang melakukan kekerasan kepada istrinya, bahkan sebelum mereka menikah pada 2012.

Dia mulai memukuli korban pada 2009, setahun setelah mereka memulai hubungan. Kekerasan semakin parah bahkan saat korban tengah hamil. Sejak Juni 2015, pelaku memukulinya setidaknya sepekan sekali.

Sementara itu korban tidak berani mengadu ke keluarga maupun polisi karena diancam akan dibunuh.

Sebuah penilaian psikiatris menyebut, pelaku memiliki kepribadian antisosial dan berisiko bagi putrinya. Laporan juga mencatat dia merasa sombong dengan melakukan eksploitasi seksual terhadap korban.

--

BERITA LAINNYA

TERPOPULER

Ningsih diperintahkan kembalikan posisi 57 Pejabat di Pemkab...

QS Al-Baqarah Ayat 153 : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ "Wahai orang-orang yang...