Islam Digest: Pertolongan Allah akan Datang Jika Ikhlas dan Sabar

i-malut.com — Kisah yang dikutip dari buku 101 Kisah Segar ini menjadi pelajaran penting bagaimana menata niat dalam hati. Andai saja sepasang suami istri konsisten menjaga iman dan ketakwaan, Allah SWT akan memenuhi kebutuhannya tanpa kehilangan karamah. Namun, setan telah lebih dulu menjerumuskannya sehingga pertolongan Allah SWT tidak mereka dapatkan dengan indah.

Dilansir dari Republika, Selasa (19/3), Ceritanya, ketika itu ada suami istri yang selama hidupnya dirundung kesulitan ekonomi. Dalam menjalani hari-harinya, saking miskinnya, pasangan tersebut kadang mendapati makanan dan terkadang juga tidak makan. Namun, meski hidupnya melarat, mereka sangat taat menjalani perintah Allah SWT dan menjauhi larangannya.

Karena kebutuhan hidup yang tidak bisa ditoleransi lagi, akhirnya sang suami memutuskan keluar dari kampung halamannya demi memenuhi kebutuhan asasi sehari-hari mereka. Sewaktu keluar dari rumah menuju kampung yang dituju, ia berpikir waktu pelaksanaan shalat masih panjang. Ia akhirnya pun menunda shalat.

Namun, tiba-tiba langkah semangatnya terhenti ketika di tengah perjalanan ia melihat ada sekumpulan orang yang terdiri dari pria dan perempuan yang tengah mengerubuti sebuah pohon besar. Merasa penasaran, akhirnya suami tersebut mendekati kerumunan yang terkonsentrasi di pohon itu. Dan, ternyata mereka menjadikan pohon sebagai tempat memuja dan mengajukan permohonan.

“Ini syirik. Masyarakat tidak boleh dibiarkan menyembah serta meminta selain Allah,” gumamnya dalam hati.

Tanpa pikir panjang, sang suami itu balik kanan menuju rumahnya. Niat yang telah ia camkan sejak berangkat dari rumah akhirnya terpaksa ia batalkan setelah melihat perbuatan warga kampung setempat.

Melihat kedatangan suami, sang istri sempat heran, apalagi begitu tiba di rumah sang suami malah menuju dapur dan mengambil sebilah golok. Istrinya sudah melayangkan pertanyaan, namun tidak mendapatkan jawaban. Malah, sang suami keluar begitu saja sembari menenteng golok senjata tajam.

Namun, di tengah perjalanan, sang suami bertemu dengan sesosok orang tinggi besar dan hitam. Ternyata dia adalah iblis yang menyerupai manusia. “Hai, mau ke mana kamu?” tanya iblis dengan sinis.

Sang suami yang alim itu menjawab, “Saya hendak menuju pohon yang disembah-sembah orang bagaikan menyembah Allah. Saya sudah berjanji kepada Allah akan menebang roboh pohon yang dijadikan perbuatan syirik itu,” katanya.

Mendengar semangat suami yang ahli ibadah itu iblis pun melarangnya. Menurut iblis, jika dia tidak ada hubungannya dengan pohon itu, mengapa harus ditebang karena yang penting, dia tidak ikut-ikutan syirik seperti mereka. “Untuk itu, lebih kamu pulang saja,” saran Iblis.

“Tidak mau, kemungkaran mesti diberantas,” katanya dengan mendorong iblis yang berdiri tegak di hadapannya. “Berhenti, jangan teruskan!” kata iblis mengancam.

Akibat sama-sama bersikeras dan bersitegang, terjadilah perkelahian antara sang suami dan iblis yang menjelma sebagai manusia. Dalam perkelahian itu, iblis kalah, padahal badannya lebih besar dua kali lipat dari suami yang alim itu. Sambil menahan rasa sakit, iblis meminta maaf dan berjanji kepada sang lelaki itu akan memberikan uang emas empat dinar di bawah sajadah setiap selesai shalat Subuh.

Tetapi, dengan syarat, yaitu si lelaki mesti mengurungkan niatnya menebang pohon. “Pulang saja berburu, jangan teruskan niat tuan itu dulu,” pinta iblis.

Mendengar apa yang dikatakan iblis, mulai lunturlah kekerasan tekad si alim tadi. Terlebih, ia teringat istrinya yang terus-terus mengeluh dengan keadaannya yang serbakesulitan.

Dengan menerima tawaran iblis yang menggiurkan itu, ia pikir bisa membantu meringankan beban hidup yang selama ini ia hadapi sekaligus ingin membahagiakan istri.

Akhirnya ia benar-benar batal menebang pohon dan pulang ke rumah lalu menceritakan kepada istrinya apa yang terjadi. Benar setelah itu ia mendapati tumpukan uang emas di bawah sajadahnya. Keadaan itu berlangsung hanya sampai hari ketiga. Sedangkan, pada hari keempat, nihil. Janji iblis tak terbukti.

Akhirnya orang alim dan istrinya kecewa lalu memutuskan akan menebang pohon itu. Namun, di tengah perjalanan, ia kembali bertemu dengan iblis dan berduel lagi karena silang pendapat tentang penebangan pohon.

Namun, kali ini orang alim itu yang kalah. Sembari menahan rasa sakit, orang alim itu berkata, “Dengan kekuatan apa engkau dapat mengalahkan saya, padahal dulu engkau tidak berdaya sama sekali,” kata orang alim itu sambil tersengal-sengal.

Iblis itu dengan angkuh menjawab, “Tentu saja engkau dahulu boleh menang karena waktu itu engkau keluar rumah untuk Allah, demi Allah,” ujar iblis.

Bahkan, iblis mengakui kepada orang alim yang miskin itu, ketika perkelahian pertamanya, meski seluruh teman iblis dikerahkan untuk membantu untuk melawannya, maka tetap tidak akan bisa mengalahkannya.

Akan tetapi, untuk hari ini, kata iblis, meski orang alim itu sudah mengeluarkan segala kemampuannya, tetap tidak akan bisa menang. “Karena itu, pulang saja. Kalau tidak, kupatahkan nanti batang lehermu,” kata iblis mengancam.

Mendengar perkataan iblis, orang alim tadi termangu-mangu. Ia merasa bersalah dan niatnya memang sudah tidak ikhlas kerena Allah lagi. Dengan penuh peluh, ia pulang ke rumah. Dibatalkan niat semula untuk menebang pohon itu. Ia sadar bahwa perjuangannya yang sekarang tanpa disertai keikhlasan dan jika dilanjutkan akan mengancam keselamatannya.

__

Iklan Layanan

Komentar disini

i-malut.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

 

ARTIKEL TERKAIT

REKOMENDASI

Ike Sebut SPSI Malut Bakal Kawal Hak-hak Korban...

Ternate -- Pimpinan Daerah Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PD-SPSI) Maluku Utara (Malut), menyikapi insiden terbakarnya tungku smelter PT. Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), di Kabupaten Halmahera Tengah (Halteng). Ketua...

Siap-Siap, Guru yang ‘Lompat’ Duduki Jabatan Struktural Bakal...

Labuha - Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), bakal mengembalikan sejumlah pegawai fungsional (guru) yang saat ini menduduki jabatan struktural disejumlah SKPD, baik Eselon II, III dan IV,...

Soal Tunggakan 1 Milyar di PDAM, Pemkot Ternate...

Ternate -- Pemerintah Kota (Pemkot) Ternate masih menunggak pada Perusahan Daerah Air Minum (PDAM) kurang lebih 1 Milyar. Tunggakan tersebut terjadi saat Pemkot Ternate menempati X-Kantor Gubernur. Walikota Ternate M....

Langkah Cepat Nakertrans Malut Selidiki Insiden Kebakaran di...

Sofifi -- Insiden terbakarnya tungku smelter PT. Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), pada Selasa, 15 Juni 2021 kemarin, menelan korban luka bakar sebanyak 6 orang karyawannya. Insiden ini langsung...

Usai dilantik Ramli Tidore nyatakan PKS siap bantu...

Sanana -- Acara Pelantikan dan Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Pengurus MPD, DPD dan DED, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kab. Kepulauan Sula (Kepsul) dan Kab. Pulau Taliabu (Pultab) yang di...

Babinsa Bajo, PAM Kunker Wabup Kepsul

Sanana -- Bintara Pembina Desa (Babinsa) Bajo-Kec. Sanana Utara, Koptu. Arifin Kemhay, baru-baru ini melakukan Pengamanan (PAM) bersama Bhabinkamtibmas dan Petugas lainnya, mengawal Kunjungan Kerja (Kunker-red) Wakil Bupati (Wabup)...

LSM LIRA Malut Mengutuk Keras Pemukulan Wartawan Binpers...

Ternate -- Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Lumbung Rakyat Indonesia (LIRA) Maluku Utara (Malut), mengutuk keras tindakan pemukulan terhadap salah satu wartawan Berita Investigasi Nasional (Binpers) Biro Maluku Utara. Ketua LSM...

EGP dengan teguran Gubernur, Ningsih terus lakukan Pergantian

Sanana -- Anjing menggongong Kafilah tetap berlalu menjadi pribahasa yang tepat untuk menggambarkan Pemerintah Daerah Kabupaten Kepulauan Sula (Kepsul) dibawah Kepemimpinan Kepala Daerah (Bupati-red) Fifian Adeningsih Mus. Bagaimana tidak,...

F-Demokrat DPRD Kepsul, ingatkan Bupati Penyerapan DAK 2021

Sanana -- Fraksi Demokrat, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kepulauan Sula (Kepsul), mengingatkan Bupati Kepsul, Fifian Adeningsih Mus terkait penyerapan anggaran Dana Alokasi Khusus (DAK) Tahun 2021. Melalui Sekretaris Ajis...

BERITA UTAMA

Ningsih diperintahkan kembalikan posisi 57 Pejabat di Pemkab...

QS Al-Baqarah Ayat 153 : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ "Wahai orang-orang yang...

ARTIKEL TERKAIT

Islam Digest: Pertolongan Allah akan Datang Jika Ikhlas dan Sabar

i-malut.com — Kisah yang dikutip dari buku 101 Kisah Segar ini menjadi pelajaran penting bagaimana menata niat dalam hati. Andai saja sepasang suami istri konsisten menjaga iman dan ketakwaan, Allah SWT akan memenuhi kebutuhannya tanpa kehilangan karamah. Namun, setan telah lebih dulu menjerumuskannya sehingga pertolongan Allah SWT tidak mereka dapatkan dengan indah.

Dilansir dari Republika, Selasa (19/3), Ceritanya, ketika itu ada suami istri yang selama hidupnya dirundung kesulitan ekonomi. Dalam menjalani hari-harinya, saking miskinnya, pasangan tersebut kadang mendapati makanan dan terkadang juga tidak makan. Namun, meski hidupnya melarat, mereka sangat taat menjalani perintah Allah SWT dan menjauhi larangannya.

Karena kebutuhan hidup yang tidak bisa ditoleransi lagi, akhirnya sang suami memutuskan keluar dari kampung halamannya demi memenuhi kebutuhan asasi sehari-hari mereka. Sewaktu keluar dari rumah menuju kampung yang dituju, ia berpikir waktu pelaksanaan shalat masih panjang. Ia akhirnya pun menunda shalat.

Namun, tiba-tiba langkah semangatnya terhenti ketika di tengah perjalanan ia melihat ada sekumpulan orang yang terdiri dari pria dan perempuan yang tengah mengerubuti sebuah pohon besar. Merasa penasaran, akhirnya suami tersebut mendekati kerumunan yang terkonsentrasi di pohon itu. Dan, ternyata mereka menjadikan pohon sebagai tempat memuja dan mengajukan permohonan.

“Ini syirik. Masyarakat tidak boleh dibiarkan menyembah serta meminta selain Allah,” gumamnya dalam hati.

Tanpa pikir panjang, sang suami itu balik kanan menuju rumahnya. Niat yang telah ia camkan sejak berangkat dari rumah akhirnya terpaksa ia batalkan setelah melihat perbuatan warga kampung setempat.

Melihat kedatangan suami, sang istri sempat heran, apalagi begitu tiba di rumah sang suami malah menuju dapur dan mengambil sebilah golok. Istrinya sudah melayangkan pertanyaan, namun tidak mendapatkan jawaban. Malah, sang suami keluar begitu saja sembari menenteng golok senjata tajam.

Namun, di tengah perjalanan, sang suami bertemu dengan sesosok orang tinggi besar dan hitam. Ternyata dia adalah iblis yang menyerupai manusia. “Hai, mau ke mana kamu?” tanya iblis dengan sinis.

Sang suami yang alim itu menjawab, “Saya hendak menuju pohon yang disembah-sembah orang bagaikan menyembah Allah. Saya sudah berjanji kepada Allah akan menebang roboh pohon yang dijadikan perbuatan syirik itu,” katanya.

Mendengar semangat suami yang ahli ibadah itu iblis pun melarangnya. Menurut iblis, jika dia tidak ada hubungannya dengan pohon itu, mengapa harus ditebang karena yang penting, dia tidak ikut-ikutan syirik seperti mereka. “Untuk itu, lebih kamu pulang saja,” saran Iblis.

“Tidak mau, kemungkaran mesti diberantas,” katanya dengan mendorong iblis yang berdiri tegak di hadapannya. “Berhenti, jangan teruskan!” kata iblis mengancam.

Akibat sama-sama bersikeras dan bersitegang, terjadilah perkelahian antara sang suami dan iblis yang menjelma sebagai manusia. Dalam perkelahian itu, iblis kalah, padahal badannya lebih besar dua kali lipat dari suami yang alim itu. Sambil menahan rasa sakit, iblis meminta maaf dan berjanji kepada sang lelaki itu akan memberikan uang emas empat dinar di bawah sajadah setiap selesai shalat Subuh.

Tetapi, dengan syarat, yaitu si lelaki mesti mengurungkan niatnya menebang pohon. “Pulang saja berburu, jangan teruskan niat tuan itu dulu,” pinta iblis.

Mendengar apa yang dikatakan iblis, mulai lunturlah kekerasan tekad si alim tadi. Terlebih, ia teringat istrinya yang terus-terus mengeluh dengan keadaannya yang serbakesulitan.

Dengan menerima tawaran iblis yang menggiurkan itu, ia pikir bisa membantu meringankan beban hidup yang selama ini ia hadapi sekaligus ingin membahagiakan istri.

Akhirnya ia benar-benar batal menebang pohon dan pulang ke rumah lalu menceritakan kepada istrinya apa yang terjadi. Benar setelah itu ia mendapati tumpukan uang emas di bawah sajadahnya. Keadaan itu berlangsung hanya sampai hari ketiga. Sedangkan, pada hari keempat, nihil. Janji iblis tak terbukti.

Akhirnya orang alim dan istrinya kecewa lalu memutuskan akan menebang pohon itu. Namun, di tengah perjalanan, ia kembali bertemu dengan iblis dan berduel lagi karena silang pendapat tentang penebangan pohon.

Namun, kali ini orang alim itu yang kalah. Sembari menahan rasa sakit, orang alim itu berkata, “Dengan kekuatan apa engkau dapat mengalahkan saya, padahal dulu engkau tidak berdaya sama sekali,” kata orang alim itu sambil tersengal-sengal.

Iblis itu dengan angkuh menjawab, “Tentu saja engkau dahulu boleh menang karena waktu itu engkau keluar rumah untuk Allah, demi Allah,” ujar iblis.

Bahkan, iblis mengakui kepada orang alim yang miskin itu, ketika perkelahian pertamanya, meski seluruh teman iblis dikerahkan untuk membantu untuk melawannya, maka tetap tidak akan bisa mengalahkannya.

Akan tetapi, untuk hari ini, kata iblis, meski orang alim itu sudah mengeluarkan segala kemampuannya, tetap tidak akan bisa menang. “Karena itu, pulang saja. Kalau tidak, kupatahkan nanti batang lehermu,” kata iblis mengancam.

Mendengar perkataan iblis, orang alim tadi termangu-mangu. Ia merasa bersalah dan niatnya memang sudah tidak ikhlas kerena Allah lagi. Dengan penuh peluh, ia pulang ke rumah. Dibatalkan niat semula untuk menebang pohon itu. Ia sadar bahwa perjuangannya yang sekarang tanpa disertai keikhlasan dan jika dilanjutkan akan mengancam keselamatannya.

--

BERITA LAINNYA

TERPOPULER

Ningsih diperintahkan kembalikan posisi 57 Pejabat di Pemkab...

QS Al-Baqarah Ayat 153 : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ "Wahai orang-orang yang...