Dealektika Antara Agama dan Budaya

Oleh : Fajri Jufri
Mahasiswa Pasca Sarjana IAIN Ternate dan Guru MAN Insan Cendekia Halbar

AGAMA merupakan petunjuk ilahi yang diturunkan kepada manusia agar memperoleh kebahagiaan dalam hidup baik di dunia maupun di akhirat. Agama merupakan sumber rujukan bagi penganutnya dalam segala tindak tanduknya. Sebagai sumber nilai, agama menuntut pemeluknya agar selalu mematuhi dan mengerjakan segala perintah dari Allah sebagai ibadah. Agama lahir di tengah-tengah masyarakat yang telah memiliki adat dan budaya yang sudah dijalankan secara turun-tumurun dan sudah di anggap sebagai satu nilai dan norma yang harus dijadikan sebagai etika dalam kehidupan. Kebudayaaan secara fundamental merupakan hal yang sangat esensial dalam kehidupan suatu masyarakat. Setiap masyarakat betapun sederhananya tetap memiliki kebudayaan tersendri sebagai manifestasi hasil karya,cipta,dan rasa mereka. Kebudayaan mengandung nilai,norma,dan pandangan hidup suatu masyarakat.

Menurut Irwan Abdullah, dalam bukunya yang berjudul Konstruksi dan Reproduksi Budaya beliau menjelaskan bahwa kebudayaan itu merupakan blue-print yang telah menjadi kompas dalam perjalanan hidup manusia,ia menjadi pedoman dalam tingkah laku. Pandangan semacam ini mengharuskan untuk merunut keberlanjutan kubadayaan itu pada ekspresi simbolik individu dan kelompok, khususnya dalam meneliti proses pewarisan nilai itu terjadi karena kebudyaan merupakan pola dari pengertian dan makna yang terjalin secara menyeluruh dalam simbol-simbol dan ditrasmisikan secara historis. Kenyataan ini yang juga turut memberikan kotribusi kepada kebudayaan adalah suatu kompleks yang masyarakat indonesia yang menjadikan bhineka tinggal ika sebagai falsafah hidup bersama di negara ini.

Kebhinekaan masyarakat secara otomatis memiliki bhineka dalam budaya. Setiap masyarakat daerah memiliki kebudayaan tersendiri yang sesuai dengam nilai dan pandangan masyarakat yang mencerminkan pandangan hidup masyarakat tersebut. Kebudayaan suatu daerah seringkali menjelma dalam bentuk nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi budaya lokal. Buadaya lokal sering kali disebut sebagai kearifan lokal(local genius) yang dapat diartikan secara keseluruhan meliputi dan mungkin malahan dapat dianggap sama dengan apa yang dewasa ini terkenal dengan cultural identy yang diartikan sebagai identitas atau kepribadian budaya suatu bangsa, yang mengakibatkan, bahwa daerah bersangkutan menjadi lebih mampu menyerap dan mengolah pengaruh kebudayaan yang mendatanginya luar wilayah sendiri,sesuai dengan watak dan kebutuahan pribadinya.Interaksi antara agama sosial, dan budaya telah melahirkan keragaman budaya indonesia.

Nur Syam menjelaskan dalam bukunya Mazhab-mazhab Antropologi,agama sebagai sistem kebudayaan merupakan pola bagi tingkah laku yang terdiri dari serangkaian aturan,rencana, dan petunjuk yang digunakan manusia dalam mengatur setiap tindakannya.Demikian juga kebudayaan dapat dimengerti sebagai pengorganisasian pemahaman yang tersimpul dalam simbol-simbol yang berhubungan dengan ekspresi tingkah laku manusia. Karena itu, agama tidak hanya bisa dimengerti sebagai seperangkat nilai diluar manusia, tetapi juga merupakan sistem pengetahuan dan sistem yang dapat melahirkan pemaknaan. Dapat dipahami bahwa antara agama dan kebudayaan mempunyai simbo-simbol dan nilai tersendiri. Agama adalah simbol yang melambangkan nilai ketaatan kepada Allah SWT, sedangkan kebudayaan juga mengandung nilai dan simbol dimana manusia diharapkan bisa hidup di dalamnya. Dalam hal ini, agama memerlukan sistem simbol, yang berarti agama memerlukan kebudyaan agama walaupun keduanya perlu dibedakan. Agama adalah sesuatu yang final, universal, dan abadi. Sedangkan kebudyaan bersifat partikular, relatif, dan tentatif. Agama tanpa kebudayaan hanya dapat berkembang sebagai agama pribadi. Karena itu, kebudayaan agama dapat melahirkan kolektivitas.

Dalam proses dealektika antara agama dan budaya itu telah terjadi proses rekonstruksi identitas,baik dalam hidup beragama maupun berbudaya. Sejalan dengan hal ini, ada proses adaptasi budaya pendatang terhadap budaya setempat yang menyangkut adaptasi nilai dan praktek kehidupan secara umum. Kebudayaan lokal dapat menjadi kekuatan baru yang memperkenalakan nilai-nilai terhadap budaya pendatang. Namun demikian, proses reproduksi kebudayaan lokal, tempat setiap kebudayaan melakukan penegasan keberadaannya sebagai pusat orientasi nilai suatu masyarakat,dapat mempengaruhi mode ekspresi setiap budaya yang lahir. M.Thyib menjelaskan dalam bukunya Sinergi Agama dan Budaya lokal bahwa dalam proses dealektika antara agama dan budaya dapat melahirkan ketegangan kreatif. Ketegangan kreatif bisa dipahami sebagai dinamika kehidupan beragama yang selalu bergerak menuju kepada kemajuan yang lebih baik, sehingga melahirkan agama yang berwawasan budaya dan budaya yang berwawasan agama.

Dalam pandangan Richard Niebuhrt respon yang muncul dalam dealektika agama dan budaya ada lima macam yaitu : 1. Agama mengubah kebudayaan. 2. Agama menyatu dengan kebudayaan. 3. Agama mengatasi kebudayaan. 4. Agama dan kebudayaan bertolak belakang. 5. Agama mentrasformasikan kebudayaan. Kelima bentuk respon tersebut dikaitakan dengan dealektika agama dan budaya dapat dijelaskan sebagai berikut :

Respon pertama merupakan pandangan penganut muslim yang mengatakan satu satunya pedoman hidup manusia adalah islam. Kelompok ini menolak segala bentuk tradisi dan budaya yang dianggap bertentangan dengan ajaran islam walau sekecil apapun. Pandangan ini melahirkan sikap keberagaman yang eksklusif.

Respon kedua adalah pandangan bahwa agama sejalan dengan budaya. Pendapat inilah yang melahirkan sinkretisme agama, yaitu membaurkan pengamalan agama dengan kebudayaan( tradisi). Praktik-praktik keagamaan atau kepercayaan sebelum islam tetap diamalkan dan ditambah dengan nuansa keislaman.

Respon ketiga berpandangan bahwa agama mengatasi kebudayaan. Pendapat ini berdasarkan bahwa islam adalah agama yang bertujuan untuk membimbing manusia agar selamat dunia dan akhirat. Sehubungan dengan itu, islam tidak menolak segala praktek kepercayaan, tradisi, dan budaya yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai islam.

Respon keempat berpandangan bahwa antara agama dan budaya tidak bisa dipertemukan karena medan cakupannya berbeda. Agama menjamin keselamatan manusia,selama manusia mengamalkan agamanya dengan sunguh-sunguh,untuk mencapai keselamatannya ia harus mengamalkan agama dengan cara mensucikan diri melalui pengamalan yang intensif dengan menafikan keterikatannya dengan dunia.

Respon kelima berpandangan bahwa agama memiliki fungsi trasformasi bagi kehidupan manusia. Pandangan ini berpijak dari pemahaman bahwa agama adalah pedoman yang memberi arah bagi aktifitas manusia.Agama adalah motivator untuk mengubah polah hidup menjadi lebih kreaatif.Rospon pandangan terakhir telah dilakukan oleh para penyebar awal Islam di Nusantara dahulu yang telah mentrasformasikan buadaya masyarakat pra islam menjadi islami,minimal tidak bertentangan dengan Islam.

Wallahu,alam bisswab

__

Iklan Layanan

Komentar disini

i-malut.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.

 

ARTIKEL TERKAIT

REKOMENDASI

Satu Karyawan PT IWIP Meninggal Dunia, SPSI Bakal...

Sofifi -- Satu karyawan yang merupakan korban pada insiden ledakan tungku Smelter A PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara, dinyatakan telah menghembuskan napas...

Kadis Tersangka, simak Komentar mereka Eks. Kadisdik Sula

Sanana -- Permasalahan Hukum yang tengah dihadapi Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kepulauan Sula (Kepsul), Rifai Haitami, mendapat komentar beragam dari ASN Senior yang pernah juga menjabat sebagai Kadisdik Kepsul. Rifai...

Berkas Perkara menuju P21, Pelapor berharap Kadisdik Sula...

Sanana -- Berkas Kasus dugaan Pengancaman lewat media Elektronik yang dilaporkan oleh Saudara La Onyong Ode Ali alias Nyong alias Ongen dengan Terlapor Saudara Rifai Haitami alias Kafu, Oknum...

Bupati Sula atau Ajudannya yang berbohong, ini Kronologisnya

Sanana -- Polemik Surat Gubernur Maluku Utara (Malut) Abd. Gani Kasuba melalui Sekprov yang ditujukan kepada Bupati Sula Fifian Adeningsi Mus (FAM) mulai mendapatkan titik terang. Infomasi yang berhasil dihimpun...

Soal Surat dari Sekprov, Kader Nasdem menduga Bupati...

Sanana -- Pernyataan Bupati Kepulauan Sula (Kepsul) Fifian Adeningsi Mus (FAM) yang menyatakan bahwa belum menerima surat dari Sekretaris Provinsi (Sekprov) Maluku Utara, Drs. Hasanuddin Abdul Kadir, menuai tanggapan...

Kompak dengan Jersey Kuning Golkar, Bupati FAM terima...

Sanana -- Berlangsung di Istana Daerah Desa Fagudu-Sanana, sekilas orang mengira ini adalah acara Partai Golkar, setelah mendekat perkiraan itu keliru, karena ini adalah acara Vaksinasi Covid-19 ke dua...

Kota Ternate Bakal Punya Pasar Hewan, Ini Rencana...

Ternate – Dinas Pertanian Kota Ternate berencana membangun pasar  hewan di Kelurahan Sulamadaha kecamatan Ternate Barat, di Tahun 2021. Hal ini dianggap sangat penting guna mengatur dan menertibkan para...

Misteri Surat Sekprov ke Bupati Sula, siapa yang...

Sanana -- Baru-baru ini diacara Pelantikan dan Rakerda Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DPD. Kepulauan Sula (Kepsul) dan Pulau Taliabu (Pultab) Rabu 16/6/2021, Bupati Kepsul Fifian Adeningsih Mus, mengeluarkan pernyataan...

Ali Kembali Pimpin Dinas PUPR, Dahrun Tetap Dalam...

Labuha – Bupati Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), Usman Sidik, kembali melakukan pergantian ditingkat Pimpinan SKPD. Kali ini Plt. Kepala Dinas (Kadis) Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, Dahrun Kasuba harus...

BERITA UTAMA

ARTIKEL TERKAIT

Dealektika Antara Agama dan Budaya

Oleh : Fajri Jufri
Mahasiswa Pasca Sarjana IAIN Ternate dan Guru MAN Insan Cendekia Halbar

AGAMA merupakan petunjuk ilahi yang diturunkan kepada manusia agar memperoleh kebahagiaan dalam hidup baik di dunia maupun di akhirat. Agama merupakan sumber rujukan bagi penganutnya dalam segala tindak tanduknya. Sebagai sumber nilai, agama menuntut pemeluknya agar selalu mematuhi dan mengerjakan segala perintah dari Allah sebagai ibadah. Agama lahir di tengah-tengah masyarakat yang telah memiliki adat dan budaya yang sudah dijalankan secara turun-tumurun dan sudah di anggap sebagai satu nilai dan norma yang harus dijadikan sebagai etika dalam kehidupan. Kebudayaaan secara fundamental merupakan hal yang sangat esensial dalam kehidupan suatu masyarakat. Setiap masyarakat betapun sederhananya tetap memiliki kebudayaan tersendri sebagai manifestasi hasil karya,cipta,dan rasa mereka. Kebudayaan mengandung nilai,norma,dan pandangan hidup suatu masyarakat.

Menurut Irwan Abdullah, dalam bukunya yang berjudul Konstruksi dan Reproduksi Budaya beliau menjelaskan bahwa kebudayaan itu merupakan blue-print yang telah menjadi kompas dalam perjalanan hidup manusia,ia menjadi pedoman dalam tingkah laku. Pandangan semacam ini mengharuskan untuk merunut keberlanjutan kubadayaan itu pada ekspresi simbolik individu dan kelompok, khususnya dalam meneliti proses pewarisan nilai itu terjadi karena kebudyaan merupakan pola dari pengertian dan makna yang terjalin secara menyeluruh dalam simbol-simbol dan ditrasmisikan secara historis. Kenyataan ini yang juga turut memberikan kotribusi kepada kebudayaan adalah suatu kompleks yang masyarakat indonesia yang menjadikan bhineka tinggal ika sebagai falsafah hidup bersama di negara ini.

Kebhinekaan masyarakat secara otomatis memiliki bhineka dalam budaya. Setiap masyarakat daerah memiliki kebudayaan tersendiri yang sesuai dengam nilai dan pandangan masyarakat yang mencerminkan pandangan hidup masyarakat tersebut. Kebudayaan suatu daerah seringkali menjelma dalam bentuk nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi budaya lokal. Buadaya lokal sering kali disebut sebagai kearifan lokal(local genius) yang dapat diartikan secara keseluruhan meliputi dan mungkin malahan dapat dianggap sama dengan apa yang dewasa ini terkenal dengan cultural identy yang diartikan sebagai identitas atau kepribadian budaya suatu bangsa, yang mengakibatkan, bahwa daerah bersangkutan menjadi lebih mampu menyerap dan mengolah pengaruh kebudayaan yang mendatanginya luar wilayah sendiri,sesuai dengan watak dan kebutuahan pribadinya.Interaksi antara agama sosial, dan budaya telah melahirkan keragaman budaya indonesia.

Nur Syam menjelaskan dalam bukunya Mazhab-mazhab Antropologi,agama sebagai sistem kebudayaan merupakan pola bagi tingkah laku yang terdiri dari serangkaian aturan,rencana, dan petunjuk yang digunakan manusia dalam mengatur setiap tindakannya.Demikian juga kebudayaan dapat dimengerti sebagai pengorganisasian pemahaman yang tersimpul dalam simbol-simbol yang berhubungan dengan ekspresi tingkah laku manusia. Karena itu, agama tidak hanya bisa dimengerti sebagai seperangkat nilai diluar manusia, tetapi juga merupakan sistem pengetahuan dan sistem yang dapat melahirkan pemaknaan. Dapat dipahami bahwa antara agama dan kebudayaan mempunyai simbo-simbol dan nilai tersendiri. Agama adalah simbol yang melambangkan nilai ketaatan kepada Allah SWT, sedangkan kebudayaan juga mengandung nilai dan simbol dimana manusia diharapkan bisa hidup di dalamnya. Dalam hal ini, agama memerlukan sistem simbol, yang berarti agama memerlukan kebudyaan agama walaupun keduanya perlu dibedakan. Agama adalah sesuatu yang final, universal, dan abadi. Sedangkan kebudyaan bersifat partikular, relatif, dan tentatif. Agama tanpa kebudayaan hanya dapat berkembang sebagai agama pribadi. Karena itu, kebudayaan agama dapat melahirkan kolektivitas.

Dalam proses dealektika antara agama dan budaya itu telah terjadi proses rekonstruksi identitas,baik dalam hidup beragama maupun berbudaya. Sejalan dengan hal ini, ada proses adaptasi budaya pendatang terhadap budaya setempat yang menyangkut adaptasi nilai dan praktek kehidupan secara umum. Kebudayaan lokal dapat menjadi kekuatan baru yang memperkenalakan nilai-nilai terhadap budaya pendatang. Namun demikian, proses reproduksi kebudayaan lokal, tempat setiap kebudayaan melakukan penegasan keberadaannya sebagai pusat orientasi nilai suatu masyarakat,dapat mempengaruhi mode ekspresi setiap budaya yang lahir. M.Thyib menjelaskan dalam bukunya Sinergi Agama dan Budaya lokal bahwa dalam proses dealektika antara agama dan budaya dapat melahirkan ketegangan kreatif. Ketegangan kreatif bisa dipahami sebagai dinamika kehidupan beragama yang selalu bergerak menuju kepada kemajuan yang lebih baik, sehingga melahirkan agama yang berwawasan budaya dan budaya yang berwawasan agama.

Dalam pandangan Richard Niebuhrt respon yang muncul dalam dealektika agama dan budaya ada lima macam yaitu : 1. Agama mengubah kebudayaan. 2. Agama menyatu dengan kebudayaan. 3. Agama mengatasi kebudayaan. 4. Agama dan kebudayaan bertolak belakang. 5. Agama mentrasformasikan kebudayaan. Kelima bentuk respon tersebut dikaitakan dengan dealektika agama dan budaya dapat dijelaskan sebagai berikut :

Respon pertama merupakan pandangan penganut muslim yang mengatakan satu satunya pedoman hidup manusia adalah islam. Kelompok ini menolak segala bentuk tradisi dan budaya yang dianggap bertentangan dengan ajaran islam walau sekecil apapun. Pandangan ini melahirkan sikap keberagaman yang eksklusif.

Respon kedua adalah pandangan bahwa agama sejalan dengan budaya. Pendapat inilah yang melahirkan sinkretisme agama, yaitu membaurkan pengamalan agama dengan kebudayaan( tradisi). Praktik-praktik keagamaan atau kepercayaan sebelum islam tetap diamalkan dan ditambah dengan nuansa keislaman.

Respon ketiga berpandangan bahwa agama mengatasi kebudayaan. Pendapat ini berdasarkan bahwa islam adalah agama yang bertujuan untuk membimbing manusia agar selamat dunia dan akhirat. Sehubungan dengan itu, islam tidak menolak segala praktek kepercayaan, tradisi, dan budaya yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai islam.

Respon keempat berpandangan bahwa antara agama dan budaya tidak bisa dipertemukan karena medan cakupannya berbeda. Agama menjamin keselamatan manusia,selama manusia mengamalkan agamanya dengan sunguh-sunguh,untuk mencapai keselamatannya ia harus mengamalkan agama dengan cara mensucikan diri melalui pengamalan yang intensif dengan menafikan keterikatannya dengan dunia.

Respon kelima berpandangan bahwa agama memiliki fungsi trasformasi bagi kehidupan manusia. Pandangan ini berpijak dari pemahaman bahwa agama adalah pedoman yang memberi arah bagi aktifitas manusia.Agama adalah motivator untuk mengubah polah hidup menjadi lebih kreaatif.Rospon pandangan terakhir telah dilakukan oleh para penyebar awal Islam di Nusantara dahulu yang telah mentrasformasikan buadaya masyarakat pra islam menjadi islami,minimal tidak bertentangan dengan Islam.

Wallahu,alam bisswab

--

BERITA LAINNYA

TERPOPULER